Kisah Merpati, Maskapai Bangkrut dan Terlilit Utang Kini Kembali Terbang

Isna Rifka Sri Rahayu ยท Rabu, 16 Oktober 2019 - 23:09 WIB
Kisah Merpati, Maskapai Bangkrut dan Terlilit Utang Kini Kembali Terbang

PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) Tbk telah mendapatkan bantuan dari 10 badan usaha milik negara (BUMN) untuk merestrukturisasi bisnisnya. (Foto: Okezone)

JAKARTA, iNews.id - PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) Tbk telah mendapatkan bantuan dari 10 badan usaha milik negara (BUMN) untuk merestrukturisasi bisnisnya. Pasalnya, pada 2014 Merpati sempat bangkrut karena terlilit utang.

Direktur Utama Merpati Airlines Asep Ekanugraha mengatakan, empat tahun lalu upaya untuk merestrukturisasi maskapai datang dari pemegang saham. Sejak saat itu, Merpati harus mengalami masa yang pelik untuk bisa kembali beroperasi.

"Empat tahun lalu di bulan yang sama, Oktober 2015 ada surat dari pemegang saham untuk merekturisasi Merpati. Cukup panjang memang," ujarnya di Gedung Kementerian BUMN, Jakarta, Rabu (16/10/2019).

Akhirnya, Merpati berupaya membenahi perusahaan dengan mengikuti tiga rekomendasi dari PT Perusahaan Pengelola Aset, yaitu mendirikan anak perusahaan, menyelesaikan karyawan, dan merestrukturisasi utang.

Pada 27 Januari 2016, lahirlah dua anak usaha Merpati yang bermain di bisnis yang berbeda, yaitu Merpati Maintenance Facility dan Merpati Training Center. Saat ini, kedua anak usaha tersebut telah memperoleh sedikit keuntungan.

"Saat itu (mereka) dilahirkan dalam kondisi yang memang perusahaan induknya sudah setop beroperasi dari tahun 2014. Jadi ada tantangan tersendiri," kata dia.

Pada bulan berikutnya, Merpati menyelesaikan kewajibannya kepada 1.532 karyawannya yang memiliki hak atas gaji dan atau pesangon. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.441 karyawan merupakan karyawan tetap.

"Cukup berat penyelesaian karyawan ini bahkan dalam beberapa hal juga kami menghadapi tuntutan dan pengadilan yang sampai di beberapa kota di seluruh Indonesia," ucapnya.

Dia melanjutkan, pada 2018, Merpati dituntut oleh pengadilan atas Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU). Pasalnya, pengadilan memutuskan utang Merpati yang harus dibayarkan mencapai Rp10,9 triliun.

"Perjalanan itu juga 14 November 2018 kami capai homologasi, artinya merpati saat itu proposal yang diajukan dipercaya dan diberi kesempatan kreditor untuk jalankan bisnis sesuai yang diajukan. Yang nantinya akan mampu selesaikan kewajiban terhadap kreditur," tutur dia.

Editor : Ranto Rajagukguk