Melihat Jantung Kendali Tambang Bawah Tanah PT Freeport Indonesia: Canggih, Kompleks, bak Main Game
“Pertama, tingginya debu silika. Kemudian, lumpur basah. Anda bisa bayangkan materi tambang itu seperti odol, kalau dipencet bisa ke mana-mana dengan kecepatan tinggi. Ini yang bisa membahayakan pekerja seperti tertimbun material. Untuk kenapa dikembangkan teknologi nirawak ini,” kata dia.
Belum lagi bahaya longsor atau reruntuhan, gempa bumi maupun gas beracun. “Jadi kalau dulu driver mengontrol dari dalam kendaraanya, ini seperti memindahkan. Driver dari jarak jauh, kendaraan ada di bawah tanah,” ucap putra asli Papua asal Wamena ini.
Hengky menuturkan, untuk menggali potensi mineral tambang di GBC saat ini lebih dari 40 LHD dioperasikan. Kendaraan ini hilir mudik mengangkut batuan bijih dari setidaknya 2.416 drawpoints. Penambangan bawah tanah ini juga direncanakan bakal digunakan ketika mengeksploitasi area Kucing Liar pada 2026.
Pantauan iNews.id di ruang kendali (control room) berdinding krem seluas 45 meter x 20 meter pada pertengahan Agustus lalu, para operator tenggelam dalam pekerjaannya. Tanpa banyak bicara, namun mata tajam menancap layar. Tangan terus lihai bergerak menjalankan kendaraan.
Di ruang itu layar yang menunjukkan grafik dan berbagai indikator terkait dengan operasional tambang bawah tanah terpampang di mana-mana. Mereka yang bertugas senantiasa sigap memantau pergerakan alat. Bila terjadi kendala, muncul semacam sinyal yang langsung terdeteksi dari ‘jantung’ ruang operasional underground mine terbesar di dunia ini.
Semuanya bermula dari ekspedisi Cartenz oleh AH Colijn, FJ Wissel, dan geolog muda Jean-Jacques Dozy pada 1936. Orang asing ini menembus rimba Papua, mencapai gunung gletser Jayawijaya dan menemukan gunung bijih alias Ertsberg. Penelitian Dozy ini berakhir pada jurnal di perpustakaan Belanda.