Melihat Jantung Kendali Tambang Bawah Tanah PT Freeport Indonesia: Canggih, Kompleks, bak Main Game
Dua dekade lebih berselang, tepatnya pada 1963, ekspedisi dilakukan oleh Forbes Wilson dan Del Flint untuk menemukan kembali Ertsberg. Wilson yang saat itu manajer eksplorasi Freeport Sulphur sebelumnya terkesima ketika menemukan laporan Dozy tentang gunung bijih tersebut.
Atas restu dan pendanaan perusahaan Wilson menuju Papua untuk membuktikan kebenaran jurnal yang ditulis Dozy. Inilah cikal bakal masuknya Freeport Mc-Moran Inc, perusahaan tambah Amerika Serikat ke Indonesia.
Pada 1966, Indonesia mengalami pergantian pemerintahan. Soeharto dengan Orde Baru butuh meningkatkan perekonomian, namun di sisi lain sumber daya dalam negeri terbatas. Lahirlah terobosan bersejarah berupa Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing. Beleid ini memungkinkan pihak luar untuk berinvestasi di Indonesia.
UU PMA ditangkap sebagai peluang emas Freeport McMoran Copper & Gold Mereka pun mengajukan izin penambangan di Ertsberg. Seperti pucuk dicinta ulam pun tiba. Lahirlah PT Freeport Indonesia sebagai entitas bisnis yang akan berlayar mengarungi keras dan terjalnya medan pertambangan di tanah Papua.
Mengacu sejarah perseroan, PTFI mula-mula menambang Ertsberg pada 1972 setelah mereka mendapatkan Kontrak Karya I pada 1967. Kontrak karya itu berlaku 30 tahun setelah resmi beroperasi pada 1973. Penambangan itu menghasilkan konsentrat tembaga, emas, perak dan mineral turunan lainnya.