Peminat Aset Kripto Meningkat, per Bulan Bertambah 725.000 Pelanggan

Advenia Elisabeth ยท Sabtu, 01 Oktober 2022 - 08:59:00 WIB
Peminat Aset Kripto Meningkat, per Bulan Bertambah 725.000 Pelanggan
Plt Kepala Bappebti, Didid Noordiatmoko. (Foto: dok Bappebti)

JAKARTA, iNews.id - Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) menyatakan peminat aset kripto di Indonesia terus meningkat. Hal itu terlihat dari jumlah pelanggan aset kripto terdaftar yang bertambah 725.000 per bulan sepanjang tahun ini.

Plt. Kepala Bappebti, Didid Noordiatmoko, mengatakan jumlah pelanggan aset kripto terdaftar di Indonesia sampai dengan Agustus 2022 tercatat sebesar 16,1 juta pelanggan dengan rata-rata kenaikan jumlah pelanggan terdaftar sebesar 725.000 pelanggan per bulan. 

“Hal ini menunjukkan minat masyarakat untuk berinvestasi di perdagangan aset kripto terus meningkat. Sehingga, Bappebti menilai perlu adanya pengawasan yang baik untuk menjaga agar kondisi perdagangan aset kripto di Indonesia tetap kondusif,” kata Didid, dikutip Sabtu (1/10/2022). 

Meski peminat aset kripto di Indonesia bertambah, total nilai transaksi perdagangan aset kripto di tahun ini justru mengalami penurunan. 

Pada 2021, total nilai transaksi perdagangan aset kripto tercatat mencapai Rp859,5 triliun. Sedangkan pada Januari-Agustus 2022, total nilai transaksi perdagangan aset kripto tercatat sebesar Rp249,3 triliun. 

"Dari total nilai transaksi perdagangan aset kripto selama Januari-Agustus 2022, terjadi penurunan sebesar 56,35 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya,” ungkap Didid.

Dia mengungkapkan, Kementerian Perdagangan (Kemendag) melalui Bappebti mendukung penuh pertumbuhan perdagangan aset kripto di Indonesia. Terlebih, data Gross Merchandise Value (GMV) menyebutkan bahwa pada 2021, Indonesia merupakan negara teratas di ASEAN dengan nilai ekonomi digital sebesar 70 miliar dolar AS.

Terkait dengan itu, Bappebti terus berupaya mengatur perdagangan aset kripto melalui sejumlah peraturan, dengan tujuan sebagai berikut: 

1. Memberikan perlindungan kepada konsumen dan kepastian berusaha
2. Meningkatkan investasi di dalam negeri atau mencegah capital outflow
3. Meningkatkan penerimaan pajak bagi negara
4. Mencegah kejahatan pencucian uang dan pendanaan terorisme
5. Membuka lapangan kerja baru di bidang teknologi informasi.

Dia menjelaskan, Indonesia adalah salah satu negara yang mengadopsi pengaturan kripto tercepat. Oleh karena itu, Bappebti memandang bahwa pengaturan perdagangan aset kripto wajib dilakukan terkait perlindungan dana nasabah, memberikan kepastian hukum berusaha, dan memandang dinamika perdagangan aset kripto sebagai sesuatu yang baik. 

Sementara Kepala Biro pembinaan dan pengembangan Perdagangan Berjangka Komoditi, Tirta Karma Senjaya, mengatakan Bappebti turut mengatur aset mana yang diizinkan untuk diperdagangkan dan masuk ke whitelist.

“Dalam menentukan aset kripto yang dapat diperdagangkan di Indonesia, Bappebti telah menetapkan peraturan bagi suatu jenis aset kripto untuk dapat diperdagangkan di Indonesia sesuai dengan Peraturan Bappebti Nomor 8 Tahun 2021 tentang Pedoman Penyelenggaraan Perdagangan Pasar Fisik Aset Kripto di Bursa Berjangka pada pasal 3,” ujar Tirta.

Ketentuan yang ditetapkan adalah berbasis distributed ledger technology, berupa aset kripto utilitas (utilty crypto) atau aset kripto beragun aset (crypto backed asset), dan telah memiliki hasil penilaian dengan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) yang ditetapkan Bappebti.

Adapun hasil penilaian dengan AHP wajib mempertimbangkan ketentuan sebagai berikut, nilai kapitalisasi pasar (market cap) aset kripto (coin market cap), masuk dalam transaksi bursa aset kripto besar di dunia, memiliki manfaat ekonomi, dan telah dilakukan penilai risikonya, termasuk risiko pencucian uang dan pendanaan terorisme serta proliferasi senjata pemusnah massal.

“Ke depan, sinergi seluruh pemangku kepentingan harus terus terjalin demi terciptanya ekosistem perdagangan digital yang solid. Dengan begitu, perdagangan fisik aset kripto nantinya dapat memberikan dampak yang lebih optimal bagi masyarakat dan ekonomi nasional,” tutur Tirta.

Editor : Jeanny Aipassa

Bagikan Artikel:







Lokasi Tidak Terdeteksi

Aktifkan untuk mendapatkan berita di sekitar Anda