Pemulihan Ekonomi China Melambat dampak Aktivitas Pabrik Lanjutkan Kontraksi
Perekonomian terbesar kedua di dunia ini masih berada di tengah penurunan tajam di pasar properti. China juga bersiap untuk gelombang baru Covid-19.
Ahli epidemiologi China terkemuka, Zhong Nanshan pada pekan lalu memperkirakan bahwa gelombang kedua Covid akan memuncak pada akhir Juni, dengan sekitar 65 juta orang terinfeksi per minggu. Dokter di Beijing mengatakan kepada media pemerintah bahwa proporsi komplikasi serius rendah, begitu pula dengan tingkat rawat inap.
Sementara Zhang menuturkan, permintaan eksternal untuk barang-barang China tidak mendukung pemulihan ekonomi karena Amerika Serikat menghadapi risiko resesi. Data terbaru menunjukkan ekspor China tumbuh 8,5 persen pada April, turun tajam dari bulan sebelumnya yang tumbuh 14,8 persen. Ini menunjukkan permintaan global melambat.
"Sentimen di pasar keuangan cukup bearish," ujarnya.
Perekonomian China mengalami ledakan aktivitas awal setelah pencabutan mendadak pembatasan pandemi tahun lalu. Pada kuartal I 2023, PDB meningkat 4,5 persen dari tahun lalu.
Tetapi momentum telah melambat baru-baru ini karena penjualan ritel, output industri, dan investasi untuk April meleset dari perkiraan para ekonom. PMI manufaktur secara tak terduga menyusut bulan lalu, menghentikan ekspansi tiga bulan berturut-turut di sektor ini. Aktivitas di industri jasa juga mulai mereda pada April.
Tekanan deflasi semakin memburuk karena harga konsumen hampir tidak bergerak selama beberapa bulan terakhir. Kekhawatiran utama lainnya, yakni melonjaknya tingkat pengangguran kaum muda, yang mencapai rekor 20,4 persen pada April.
Editor: Jujuk Ernawati