Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Ini Alasan Rusia-China 'Tak Dukung' Iran saat Voting Resolusi DK PBB soal Serang Negara Teluk
Advertisement . Scroll to see content

Putin Ambil Alih Proyek Migas Sakhalin-2, Jepang Ketar-ketir

Sabtu, 02 Juli 2022 - 20:15:00 WIB
Putin Ambil Alih Proyek Migas Sakhalin-2, Jepang Ketar-ketir
Presiden Rusia Vladimir Putin teken dekrit untuk ambil alih proyek migas Sakhalin-2 bikin Jepang ketar-ketir.
Advertisement . Scroll to see content

Persaingan untuk pengiriman secara global saat ini sangat ketat dan proyek Sakhalin memenuhi sekitar 8 persen dari kebutuhan Jepang. Jadi prospek Rusia yang berpotensi mengambil alih kepentingan Jepang dalam proyek tersebut pasti akan menimbulkan respons yang tidak menyenangkan di Tokyo. 

Jika pasokan Rusia ke Jepang terputus, maka negara itu harus mencari sumber baru di tempat lain. Hal tersebut bisa mendorong naiknya harga secara global, di tengah kenaikan biaya energi sudah memicu inflasi.

Dekrit lima halaman, yang muncul di tengah sanksi Barat terhadap Moskow atas invasi ke Ukraina, menyebutkan terserah Kremlin untuk memutuskan apakah pemegang saham asing harus tetap berada di konsorsium.

Jepang sebelumnya menyatakan tidak akan melepaskan kepentingannya dalam proyek Sakhalin-2, yang penting untuk keamanan energinya, bahkan jika diminta untuk pergi.

Seorang juru bicara Mitsubishi mengatakan, perusahaan sedang berdiskusi dengan mitranya di Sakhalin Energy dan pemerintah Jepang tentang bagaimana menanggapi keputusan Putin. Sedangkan Mitsui tidak segera menanggapi permintaan dari BBC untuk memberikan komentar, tetapi mengatakan kepada Nikkei Asia, mereka dalam proses mengonfirmasi kebenarannya.

Mitsui memiliki 12,5 persen saham dalam proyek tersebut dan Mitsubishi 10 persen. Sementara Shell memegang 27,5 persen, dikurangi satu saham. Raksasa gas Rusia Gazprom memiliki 50 persen, ditambah satu saham.

Wakil Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Seiji Kihara mengatakan, pemerintah negara itu sedang memeriksa isi dekrit dan menganalisis niat Moskow.

"Secara umum, kepentingan negara kita dalam sumber daya tidak boleh dirugikan," ujarnya.

Dia menolak mengatakan apakah Jepang melakukan kontak dengan Moskow mengenai masalah tersebut. Sedangkan Menteri Perindustrian Jepang Koichi Hagiuda mengatakan, pemerintah tidak menganggap dekrit itu sebagai permintaan.

"Keputusan itu tidak berarti bahwa impor LNG Jepang akan segera menjadi tidak mungkin, tetapi perlu untuk mengambil semua tindakan yang mungkin untuk mempersiapkan keadaan yang tidak terduga," ucapnya.

Editor: Jujuk Ernawati

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut