Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Harta Pemilik Labubu Wang Ning Tembus Rp453 Triliun, Lebih Kaya dari Jack Ma
Advertisement . Scroll to see content

Akibat Denda Antimonopoli, Alibaba Catat Rugi Perdana Sejak IPO Senilai Rp12 Triliun

Minggu, 16 Mei 2021 - 08:26:00 WIB
Akibat Denda Antimonopoli, Alibaba Catat Rugi Perdana Sejak IPO Senilai Rp12 Triliun
Alibaba Group catat rugi untuk pertama kalinya sejak IPO pada 2014 lalu.
Advertisement . Scroll to see content

BEIJING, iNews.id - Alibaba Group mencatat kerugian secara kuartalan untuk pertama kalinya sejak perusahaan milik Jack Ma itu go public pada 2014. Kerugian perusahaan akibat denda antimonopoli oleh pemerintah China. 

Raksasa e-commerce China itu mencatat kerugian operasional sebesar 7,7 miliar yuan atau sekitar Rp17 triliun pada kuartal keempat yang berakhir Maret 2021 lalu. Akibat rugi operasional, rugi bersih perusahaan tercatat senilai 5,47 miliar yuan atau sekitar Rp12,06 triliun dalam tiga bulan yang berakhir Maret 2021. 

Rugi itu terjadi setelah perusahaan mendapat denda senilai 18,2 miliar yuan atau sekitar Rp40,1 triliun karena terlibat dalam praktik monopoli. 

Dikutip dari Forbes, meski mencatat rugi, namun pendapatan perusahaan meningkat. Alibaba melaporkan pendapatan operasional naik 48 persen secara year to year (yoy) menjadi 10,6 miliar yuan sebelum denda. Sementara pendapatan keseluruhan sebesar 187,4 miliar yuan pada kuartal keempat atau naik 64 persen secara yoy.

"Selama tahun fiskal terakhir, kami telah melewati berbagai macam tantangan, termasuk pandemi Covid-19, kompetisi ketat, dan penyelidikan antimonopoli serta keputusan hukum oleh pemerintah China," kata CEO Alibaba Group Daniel Zhang.

Kendati demikian, dia menegaskan bahwa cara terbaik untuk mengatasi tantangan tersebut adalah tetap fokus pada masa depan dan melakukan investasi jangka panjang. 

Sementara itu, saham Alibaba turun 4 persen di Hong Kong pada Jumat (14/5/2021), anjlok hampir 33 persen dari posisi tertinggi di Oktober 2020. Sedangkan di New York, saham perusahaan susut 6,3 persen, merosot 35 persen dari level tertinggi pada bulan yang sama tahun lalu. 

Saham Alibaba berada di bawah tekanan sejak pendirinya Jack Ma mengecam pemerintah China dalam pidatonya di forum keuangan pada Oktober 2020. Pihak berwenang dengan cepat melakukan tindakan terhadap raksasa e-commerce itu, termasuk penangguhan secara mendadak penawaran umum perdana saham (IPO) anak usaha Alibaba Group, Ant Group senilai 35 miliar dolar AS. 

Ant menyumbang 7,2 miliar yuan terhadap pendapatan Alibaba dalam tiga bulan yang berakhir Maret. Unit fintech ini membukukan laba 21,8 miliar yuan secara kuartalan yang berakhir Desember, naik 49,7 persen dari kuartal sebelumnya. 

Pada April lalu, Bank Sentral China menyatakan bahwa Ant Group harus melakukan restrukturisasi bisnis sebagai perusahaan induk keuangan. Artinya, mereka harus tunduk pada peraturan yang lebih ketat. 

Editor: Jujuk Ernawati

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut