Apa yang Dimaksud Dengan Krisis Moneter, Simak Penyebabnya

Jeanny Aipassa ยท Kamis, 27 Januari 2022 - 15:24:00 WIB
Apa yang Dimaksud Dengan Krisis Moneter, Simak Penyebabnya
Salah satu penyebab krisis moneter Indonesia pada 1998 adalah anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. (Foto: dok iNews)

JAKARTA, iNews.id - Krisis moneter atau dikenal sebagai krisis keuangan pernah dialami Indonesia pada 1998. Meski  demikian, tak banyak orang tahu apa yang dimaksud dengan krisis moneter dan apa saja penyebabnya.  

Krisis moneter merupakan situasi di mana keadaan keuangan suatu negara tidak stabil, akibat harga aset mengalami penurunan nilai yang tajam, bisnis dan konsumen tidak dapat membayar hutangnya, dan lembaga keuangan mengalami kekurangan likuiditas. 

Umumnya, krisis moneter sering dikaitkan dengan kepanikan dimana investor menjual aset atau menarik dana (rush) dari rekening tabungan, karena takut nilai asetnya turun bahkan hilang jika tetap disimpan di lembaga keuangan. 

Namun ada juga situasi lain krisis moneter yang disebabkan oleh pecahnya gelembung keuangan spekulatif, kehancuran pasar saham, gagal bayar pemerintah terhadap utang negara, atau krisis mata uang. 

Jika tak terkendali, krisis moneter mungkin yang tadinya terbatas pada lembaga keuangan dapat menyebar ke seluruh sektor ekonomi suaru negara bahkan di seluruh dunia, seperti yang terjadi pada 1998.

Lalu apa saja penyebab krisis moneter? Umumnya, krisis moneter dapat terjadi jika lembaga atau aset dinilai terlalu tinggi, dan dapat diperburuk oleh perilaku investor yang tidak rasional atau panik. 

Misalnya, serangkaian aksi jual yang cepat di pasar modal dapat mengakibatkan harga saham jatuh, sehingga mendorong investor membuang saham atau melakukan penarikan tabungan dalam jumlah besar ketika rumor kegagalan bank.

Ada beberapa faktor yang turut berkontribusi pada krisis moneter, yaitu kegagalan sistemik, perilaku investor atau pemodal yang tidak terkendali, insentif untuk mengambil terlalu banyak risiko, ketiadaan atau kegagalan peraturan, atau efek domino yang menyebabkan krisis menyebar dari satu lembaga ke lembaga lain bahkan antarnegara.

Berikut beberapa penyebab krisis moneter yang terjadi di Indonesia pada 1998: 

1. Rupiah Anjlok

Sebelum krisis moneter 1998, Indonesia telah mengalami penurunan nilai mata uang atau kurs rupiah pada Agustus 1997 bahkan terjun bebas ke titik terendah pada September 1997. 

Dalam waktu kurang dari setahun, kurs rupiah yang berada di angka Rp2.380 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Agustus 1997, anjlok hingga 600 persen menjadi Rp16.650 pada Julo 1998. 

Meski nilai rupiah mulai bangkit dan dihargai Rp8.000 per dolar AS pada akhir 1998, hal ini tak banyak memberi pengaruh karena perekonomian masyarakat sudah terpuruk.

2. Utang Luar Negeri Membengkak

Krisis moneter yang melanda Indonesia pada 1998 juga dipicu membengkaknya utang luar negeri oleh swasta yang tak terkendali. 

Pada Maret 1998, utang luar negeri swasta Indonesia tercatat mencapai 138 miliar dolar AS. Sekitar 72,5 miliar dolar AS dari utang luar negeri tersebut merupakan utang jangka pendek yang jatuh tempo pada 1998. 

Padahal di saat itu, cadangan devisa Indonesia hanya senilai 14.44 miliar dolar AS, sehingga tak cukup untuk membayar utang tersebut, apalagi beserta bunganya. 

3. Krisis Kepercayaan

Kebijakan pemerintah dalam menangani krisis keuangan yang dinilai plin-plan menyebabkan kepercayaan masyarakat dan pasar mulai runtuh. 

Ditambah lagi dengan kondisi kesehatan Presiden Soeharto yang kian memburuk pada saat itu, membuat ketidakpastian politik sehingga kekhawatiran investor semakin memuncak. 

Akibatnya investor asing menarik dana dari pasar keuangan Indonesia, bahkan lembaga keuangan internasional enggan memberikan bantuan finansial secara cepat. 

4. Bantuan IMF Berujung Kegagalan

International Monetary Fund (IMF) menjadi salah satu lembaga keuangan internasional yang hadir memberi bantuan kepada Indonesia untuk mengatasi krisis moneter. 

Sejumlah paket bantuan ditawarkan IMF sebagai solusi untuk membantu Indonesia menanggulangi krisis moneter dengan menawarkan paket reformasi keuangan. 

Namun bukanya berdampak bagus, paket reformasi keuangan yang ditawarakan IMF malah membuat nasabah memutuskan untuk menarik dana besar-besaran. Salah satunya dengan peristiwa rush BCA.  

Kondisi ini makin memperparah krisis ekonomi 1998, sebab banyak bank kesulitan likuiditas dan akhirnya memberikan pinjaman secara terbatas. 

Editor : Jeanny Aipassa

Bagikan Artikel: