Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Purbaya Terbitkan Aturan Baru, Pedagang Kripto Wajib Lapor Transaksi ke DJP  
Advertisement . Scroll to see content

Ethereum dan Bitcoin Alami Penurunan Terbesar Sepanjang Januari 2022

Selasa, 01 Februari 2022 - 07:52:00 WIB
Ethereum dan Bitcoin Alami Penurunan Terbesar Sepanjang Januari 2022
Ethereum dan Bitcoin alami penurunan terbesar sepanjang Januari 2022. (foto: Istimewa)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Ethereum (ETH) mengalami penurunan harga bulanan terbesar sejak Maret 2020, disusul Bitcoin (BTC). Penurunan harga tersebut merupakan salah satu awal terburuk dalam satu tahun di pasar mata uang kripto.

Dikutip dari CoinDesk, Ethereum mengalami penurunan 31 persen sepanjang Januari 2022. Sementara Bitcoin turun sebesar 22 persen.

Aksi jual juga terjadi dibeberapa mata uang kripto yang populer di 2021, di mana dalam beberapa kasus penurunan nilai mengurangi dari setengah atau lebih dari nilai pasarnya. Terra (LUNA) anjlok 50 persen sepanjang bulan lalu. Sementara Solana (SOL) turun 49 persen, diikuti Avalanche (AVAX) turun 42 persen pada periode yang sama. 

Kepala Penelitian Corinthian Digital, Denis Vinokourov menyebut, dominasi Bitcoin berdasarkan pangsa pasar dari keseluruhan mata uang kripto berada di kisaran 42 persen. Pada tahun lalu, Bitcoin berada di angka 62 persen.

Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa kenaikan cepat tahun lalu dalam penilaian relatif altcoin telah berbalik baru-baru ini di tengah aksi jual yang lebih luas di pasar kripto.

Dia menyebut, Ethereum juga menyerahkan keunggulannya dalam keuangan terdesentralisasi (DeFi), di mana dominasinya sekitar 59 persen, menurut data dari defillama. Kecakapan kontrak pintar blockchain di DeFi tergelincir awal bulan ini ke level terendah sepanjang masa sebesar 57 persen.

"Ini menunjukkan selera risiko yang kuat, sebagai lawan pelarian modal dari aset berisiko," ucap Vinokourov.

Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan ekonomi makro yang membantu mendorong kenaikan kripto sebelumnya berbalik ke arah yang berlawanan, menciptakan ketidakpastian. Hal ini termasuk poros Federal Reserve menuju kebijakan moneter hawkish, dari sikap yang sebelumnya dovish menjaga biaya pinjaman tetap rendah hingga memicu pertumbuhan.

"Ini telah menyebabkan korelasi tertinggi antara kripto dan pasar tradisional sejak Maret 2020. Dengan mempercepat kenaikan suku bunga dan kemungkinan memulai pengetatan kuantitatif, Federal Reserve mendisinsentifkan investasi untuk mengelola inflasi," kata Kepala Penelitian IntoTheBlock Lucas Outumuro.

Menurut Outumuro, prospek mata uang kripto nampaknya sudah diperhitungkan sekarang. "Ada juga potensi kejutan kenaikan jika Fed bergerak lebih lambat dari yang diharapkan," ucapnya.

Editor: Aditya Pratama

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut