Kurs Rupiah Ditutup Tertekan ke Rp14.042 per Dolar AS
"Perkembangan di Timur Tengah kembali memanas akibat salah satu kilang minyak di Arab Saudi milik Saudi Aramco diserang. Dan Iran yang dijadikan kambing hitam," kata Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi di Jakarta, Senin (16/9/2019).
Kenaikan harga minyak membawa sentimen negatif bagi rupiah, mengingat Indonesia adalah negara net importir minyak.
Jika harga minyak naik, maka biaya impor migas bakal semakin mahal. Artinya akan semakin banyak devisa yang terbakar untuk impor migas dan membuat tekanan di neraca perdagangan dan transaksi berjalan (current account) meningkat.
"Saat devisa dari ekspor-impor barang dan jasa seret, maka fondasi penyokong rupiah menjadi rapuh karena bergantung kepada portofolio di sektor keuangan atau hot money yang bisa datang dan pergi sesuka hati. Oleh karena itu, rupiah akan rentan melemah," kata Ibrahim.
Editor: Ranto Rajagukguk