Di Markas Besar PBB, Wapres JK Soroti Harga Kopi Dunia yang Anjlok

Rully Ramli ยท Kamis, 26 September 2019 - 11:41 WIB
Di Markas Besar PBB, Wapres JK Soroti Harga Kopi Dunia yang Anjlok

Wakil Presiden Jusuf Kalla. (Foto: Setkab)

JAKARTA, iNews.id - Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK) menyoroti harga biji kopi di pasaran dunia yang merosot mencapai 70 persen sejak 1982. Penyebab anjloknya harga komoditas itu dinilai karena kelebihan pasokan produksi biji kopi dunia.

“Saya ingin menggaris bawahi dampak dari krisis harga kopi ini. Petani kecil adalah korban yang paling dirugikan. Petani kecil, bukan industri maupun konsumennya,” kata JK saat berbicara pada forum ‘Aksi Bersama Mengatasi Krisis Harga Kopi dan Mencapai Produksi Kopi Berkelanjutan’, di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), New York, Amerika Serikat (AS), dikutip dari laman Setkab, Kamis (26/9/2019)

Menurut dia, lebih dari 90 persen lahan kopi Indonesia dikelola oleh petani kecil. Karena itu, Indonesia sangat prihatin dengan krisis ini, saat keuntungan industri kopi besar dunia justru meningkat.

“Lebih dari 25 juta petani kecil kopi di seluruh dunia berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Indonesia sendiri memiliki 1,8 juta petani kopi,” ucap JK.

Merosotnya harga dunia, JK juga telah mengakibatkan menanam kopi tidak lagi menjadi sumber penghidupan yang diminati. Sebagian petani kopi bahkan beralih ke sektor lain.

Karena itu, sebagai sesama negara penghasil kopi, Wapres mengajak bersama-sama untuk membuat terobosan guna memperbaiki nasib produsen kopi di negara masing-masing. “Kita tidak bisa berdiam diri,” kata Wapres.

Dalam forum yang diinisiasi negara Kolombia ini, JK memaparkan langkah-langkah yang menjadi usulan Indonesia dalam mengatasi kemerosotan harga kopi dunia. Pertama, kata dia, terus memperluas pasar kopi, dan mengendalikan jumlah pasokannya.

Kedua, petani kecil harus ditingkatkan kemampuannya agar dapat menghasilkan kualitas kopi yang lebih baik dan bernilai tambah.

Ketiga, perlunya dibangun kemitraan antara industri dan petani kecil. Wapres menunjuk contoh industri kopi besar harus memberikan CSR (Corporarte Social Responsibility) untuk peningkatan kapasitan petai kecil. Dan

Keempat, perlu upaya khusus untuk menjaga keseimbangan harga kopi bagi petani, industri, dan konsumen.

“Diperlukan dukungan International Coffee Organization (ICO) dalam hal ini,” kata JK.

Editor : Ranto Rajagukguk