Harga Gas Industri Diminta Turun, Wamen ESDM: Kadang Mintanya Kelewatan

Isna Rifka Sri Rahayu ยท Jumat, 27 September 2019 - 14:42:00 WIB
Harga Gas Industri Diminta Turun, Wamen ESDM: Kadang Mintanya Kelewatan
Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar. (Foto: iNews.id/Isna Rifka)

JAKARTA, iNews.id - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melihat masih ada ruang untuk menurunkan harga gas industri. Sesuai dengan rekomendasi pelaku industri, harga gas di hulu dinilai bisa diturunkan.

Menteri ESDM Archandra Tahar mengatakan, penurunan harga gas di hulu ini hanya untuk lapangan gas yang belum berproduksi. Pasalnya, untuk produksi gas hulu yang telah berlangsung, kontrak jual-belinya sudah diteken.

"Kadang industri minta kelewatan, 'Pak bisa tidak harga hulu diturunkan?' Untuk harga hulu ke depan Insya Allah kita masih bisa ada ruang untuk diturunkan tapi untuk hulu yang sudah berproduksi itu susah," ujarnya saat membuka Hilir Migas Expo di JCC, Jakarta, Jumat (27/9/2019).

Ruang penurunan ini bisa dilakukan karena adanya penghematan pengeluaran pada skema bagi hasil cost recovery. Tahun lalu, cost recovery bisa dihemat sebanyak 900 juta dolar Amerika Serikat (AS) sedangkan tahun ini akan lebih besar lagi yaitu 1,66 miliar dolar AS dan tahun depan 1,78 miliar dolar AS

Menurut dia, penghematan cost recovery terjadi karena sejak 2018 banyak kontraktor yang berpindah ke skema gross split. Dengan skema ini, maka pemerintah tidak perlu membayar biaya produksi kontraktor seperti yang terjadi pada skema cost recovery.

Kendati demikian, dia meminta para pelaku  produsen gas di tingkat midstream turut memberikan harga yang kompetitif. Pasalnya, harga gas semakin ke hilir akan semakin bertambah sehingga penurunan harga gas di hulu harus dibarengi dengan harga gas di midstream.

"Kita berusaha agar hulunya bisa ikut merencanakan program lebih kompetitif sehingga harga bisa ditekan tidak serendah mungkin tapi sekompetitif mungkin," ucapnya.

Dia melanjutkan, saat ini penurunan harga gas hulu ini telah berlaku untuk lapangan gas Jambaran Tiung Biru yang mulai berproduksi tahun 2021. Menurutnya, belanja modal (capital expenditure/capex) proyek ini bisa dipangkas sebanyak 500 juta dolar AS sehingga harganya bisa diturunkan.

"Dulu harganya di atas 9 dolar AS di atas tapi proyek tidak jalan lalu kita turunkan jadi 7,6 dolar AS sehingga proyek jalan," kata dia.

Kemudian, pembangunan pipa gas Arun Belawan dia melihat ruang penurunan harga gas di sini sehingga harga yang diterima konsumen bisa lebih murah. Ternyata harganya bisa turun sebanyak 1 dolar AS per mmbtu.

"Contoh lain di Benoa. Kita kurangkan harga gas, dari midstream itu hampir 2 dolar per mmbtu," tutur dia.

Editor : Ranto Rajagukguk

Bagikan Artikel:







Lokasi Tidak Terdeteksi

Aktifkan untuk mendapatkan berita di sekitar Anda