Rupiah Nyaris Rp15.000 per Dolar AS, Sri Mulyani Bilang Begini

Michelle Natalia ยท Selasa, 05 Juli 2022 - 19:50:00 WIB
Rupiah Nyaris Rp15.000 per Dolar AS, Sri Mulyani Bilang Begini
Rupiah nyaris Rp15.000 per dolar AS, Menkeu Sri Mulyani bilang begini

JAKARTA, iNews.id - Nilai tukar rupiah ditutup kembali melemah, nyaris menyentuh Rp15.000 per dolar AS. Mata uang Garuda melemah 22 poin atau 0,15 persen ke Rp14.992 per dolar AS. 

Menanggapi tren pelemahan rupiah tersebut, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan, itu karena masih dinamisnya beberapa indikator ekonomi yang berpengaruh. Indikator-indikator tersebut terutama dari sisi keuangan, antara lain nilai tukar, suku bunga atau interest rate, hingga inflasi.

"Indonesia masih dalam kondisi baik. Transaksi berjalannya cukup baik, dalam hal ini capital flow barangkali yang terjadi karena dengan interest rate naik di AS, makanya orang-orang mencari tempat di mana mereka anggap interest rate-nya lebih tinggi," kata dia di Jakarta, Selasa(5/7/2022).

Dia pun menegaskan, pemerintah akan tetap menjaga stabilitas ekonomi. Caranya, dengan menjaga belanja, penerimaan, dan pembiayaan. 

"Kalau kita bicara stabilitas dengan growth, stabilitas tapi sisi inflasi. Kalau persoalan inflasinya dari supply side, maka kita bantu dari supply side," ujarnya. 

Hal ini, sambung dia, umpamanya membantu dari sisi kebijakan mengenai perdagangan, investasi, ekspor impor, dan distribusi. 

"Karena itu persoalan yang terjadi dari inflasi sekarang ini. Kalau permasalahannya dari sisi demand, kita akan mengelola bersama-sama mengenai agregat demand," tuturnya. 

Sementara itu, Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF)  Febrio Kacaribu mengatakan, pihaknya berperan dalam menjaga inflasi dan menjaga daya beli masyarakat agar ekonomi makro lebih terjaga.

"Inflasi yang masih tetap terjaga tidak lepas dari upaya pemerintah untuk tidak menaikkan harga-harga energi yang disubsidi," kata Febrio.

Salah satu upaya yang ditempuh pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat juga dengan menaikkan belanja subsidi dan kompensasi energi yang anggarannya sebesar Rp520 triliun. 

"Penambahan anggaran tersebut juga menolong harga-harga untuk BBM, tarif listrik dan gas LPG sehingga masih bisa ditahan," ucap Febrio.

Dia menekankan, kondisi eksternal juga masih dalam keadaan baik. Ini berkaca pada tren surplus neraca perdagangan yang terus berlanjut selama 25 bulan berturut-turut pada Mei 2022, sehingga kondisi transaksi berjalan juga masih baik.

"Dengan kinerja transaksi berjalan tersebut, cadangan devisa juga masih tinggi. Cadangan devisa bulan Mei tercatat 135,6 miliar dolar AS, posisi ini masih sangat cukup," tuturnya.

Editor : Jujuk Ernawati

Bagikan Artikel:







Lokasi Tidak Terdeteksi

Aktifkan untuk mendapatkan berita di sekitar Anda