Sri Mulyani Laporkan Defisit APBN Semester I 2020 Tembus Rp257,8 Triliun

Rina Anggraeni ยท Kamis, 09 Juli 2020 - 15:25 WIB
Sri Mulyani Laporkan Defisit APBN Semester I 2020 Tembus Rp257,8 Triliun

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. (Foto: Antara)

JAKARTA, iNews.id - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) hingga Juni 2020 mencapai Rp257,8 triliun. Jumlah tersebut naik 90,7 persen dari defisit periode yang sama tahun lalu Rp135,1 triliun. 

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menuturkan, penyebab utama defisit itu karena pendapatan negara terkontraksi hingga 9,8 persen. Dia menyebut, pendapatan negara hanya mencapai Rp811,2 triliun, turun dari realisasi semester I tahun lalu yang sebesar Rp899,6 triliun. 

"Ini sesuai estimasi kami di mana pendapatan negara akan minus sekitar 10 persen," kata Sri Mulyani dalam rapat kerja bersama Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat, Kamis (9/7/2020).

Dengan demikian, rasio defisit terhadap produk domestik bruto (PDB) tercatat 1,57 persen. Target defisit APBN 2020 diperlebar dalam Perpres Nomor 72 Tahun 2020.

Hal tersebut karena target belanja negara diperbesar menjadi Rp2.739,2 triliun, sedangkan pendapatan negara Rp1.699,9 triliun. Sri Mulyani memaparkan, realisasi pendapatan negara hingga semester I 2020 terdiri dari penerimaan perpajakan Rp624,9 triliun, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) Rp184,5 triliun, dan penerimaan hibah Rp1,7 triliun.

"Penerimaan perpajakan yang terkontraksi 9,4 persen terdiri dari penerimaan pajak Rp531,7 triliun, turun 12 persen serta penerimaan kepabeanan dan cukai Rp93,2 triliun, naik 8,8 persen," katanya.

Sementara itu PNBP yang turut terkontraksi 11,8 persen terdiri dari PNBP SDA Rp54,5 triliun, turun 22,9 persen dan PNBP Non-SDA Rp130 triliun, minus 6,1 persen.

Meski realisasi pendapatan negara masih seret, belanja negara justru tumbuh 3,3 persen menjadi Rp1.068,9 triliun, yang terdiri dari belanja pemerintah pusat Rp668,5 triliun, naik 6 persen dan belanja transfer ke daerah dan dana desa (TKDD) Rp400,4 triliun, tumbuh 0,8 persen. Belanja negara terdiri dari belanja pemerintah pusat Rp668,5 triliun, tumbuh 6 persen. 

"Tingginya belanja pemerintah pusat sebagai dampak dari belanja penanganan Covid-19," ujar dia.

Belanja pemerintah pusat terdiri dari belanja kementerian/lembaga (K/L) Rp350,4 triliun, naik 2,4 persen dan belanja non-K/L Rp318,1 triliun, tumbuh 10,3 persen. Untuk menutupi defisit yang melebar cukup besar pada paruh pertama tahun ini, realisasi pembiayaan anggaran telah mencapai Rp 416,2 triliun, tumbuh 136 persen dari realisasi periode yang sama tahun sebelumnya yakni Rp176,3 triliun.

Editor : Ranto Rajagukguk