Abu Vulkanik Anak Krakatau Masuk Jabodetabek, Dokter Tirta Ungkap Cara Tepat Membersihkannya
Badan Geologi menyebut seri erupsi tipe Strombolian yang menghasilkan lontaran batu pijar dan abu vulkanik telah berlangsung sejak 2 Juli 2026. Status aktivitas Gunung Anak Krakatau kemudian tetap berada pada Level III atau Siaga.
Masyarakat, wisatawan maupun pendaki juga dilarang melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi lontaran batu pijar, aliran lava, awan panas, serta hujan abu lebat.
Dampak erupsi juga meluas ke wilayah yang jauh dari gunung. Berdasarkan pemantauan citra satelit Himawari-9 pada 6 September 2026, terdapat sebaran abu vulkanik yang bergerak menuju wilayah Banten, DKI Jakarta dan sebagian Jawa Barat.
Laporan Associated Press menyebut terdapat dua sebaran abu yang terpantau. Salah satu kolom abu mencapai sekitar 20.000 kaki dan bergerak ke arah timur laut hingga memengaruhi Jakarta dan sekitarnya, sedangkan sebaran lainnya mencapai sekitar 50.000 kaki dan bergerak ke arah barat.
Dampak abu vulkanik juga berpengaruh terhadap aktivitas penerbangan. Bandara Soekarno-Hatta sempat menghentikan operasional penerbangan akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Reuters melaporkan ratusan penerbangan terdampak pada Minggu (6/9/2026).
Meski aktivitas Gunung Anak Krakatau meningkat, Badan Geologi menyatakan pertumbuhan tubuh gunung yang terbentuk kembali setelah erupsi 2018 masih relatif kecil dan berdasarkan evaluasi saat ini tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami. Masyarakat tetap diminta mengikuti informasi resmi dan tidak panik.
Dengan kondisi tersebut, masyarakat yang wilayahnya terdampak abu vulkanik dianjurkan mengurangi aktivitas luar ruangan, menggunakan masker ketika harus keluar rumah, serta tidak sembarangan membersihkan abu dengan cara menyapu.
Editor: Muhammad Sukardi