Anak Mulai Cemas Melihat Berita Bencana Setiap Hari? Begini Cara Orang Tua Meresponsnya
"Misal, bahasanya kita sesuaikan, jujur apa adanya, sampaikan bukan dengan menakut-nakuti, tetapi kita ajak anak berdiskusi, 'Apa ya yang bisa kita lakukan?', dan buku bisa menjadi media yang baik untuk memperkenalkan isu kompleks agar lebih mudah dicerna," ujar dr. Cika.
Pendekatan tersebut membantu orang tua mengarahkan percakapan dari sekadar paparan tentang bencana menuju pemahaman mengenai hal-hal yang dapat dilakukan. Anak tidak harus mengetahui seluruh kerumitan persoalan lingkungan sekaligus, terlebih jika informasi tersebut belum sesuai dengan tahap perkembangannya.
Orang tua juga dapat mendengarkan terlebih dahulu apa yang membuat anak khawatir. Jika anak bertanya tentang bencana yang dilihatnya dalam berita, misalnya, orang tua bisa menjelaskan kejadian tersebut sesuai fakta yang diketahui dan konteksnya, tanpa membuat generalisasi bahwa bencana serupa pasti akan menimpa mereka.
Jangan Membuat Anak Merasa Harus Menyelamatkan Bumi Sendirian
Persoalan lingkungan tidak berdiri sendiri. Perubahan iklim, pencemaran, dan kerusakan ekosistem berkaitan dengan berbagai faktor, mulai dari perilaku manusia hingga kondisi sosial-ekonomi dan kebijakan. Karena itu, anak perlu memahami persoalan tersebut secara bertahap, tanpa merasa bertanggung jawab menyelesaikan semuanya.
Mengenalkan kepedulian terhadap lingkungan bukan berarti membebani anak dengan rasa bersalah. Sebaliknya, orang tua dapat menunjukkan bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama yang melibatkan keluarga, masyarakat, dan berbagai pihak lainnya.