Dipecat IDI, Ini Profil Dokter Terawan Penemu Metode Cuci Otak

Tri Hatnanto ยท Selasa, 03 April 2018 - 14:16 WIB
Dipecat IDI, Ini Profil Dokter Terawan Penemu Metode Cuci Otak

Kepala RSPAD Mayjen TNI dr Terawan Agus Putranto Sp Rad (K) (tiga dari kiri) saat menerima penghargaan dari HSC di Jakarta pada 2015 lalu. (Foto: Sindonews/Dok)

JAKARTA, iNews.id – Kepala RSPAD Gatot Soebroto Mayjen TNI dr Terawan Agus Putranto Sp Rad (K) diberhentikan sementara dari keanggotaan PB Ikatan Dokter Indonesia (ID). Terawan dinilai melakukan pelanggaran etik berat terkait dengan metode cuci otak (brain wash) yang dikembangkannya.

Lahir di Sitisewu, Yogyakarta, 5 Agustus 1964, Terawan menempuh Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta selepas SMA. Menjadi dokter merupakan impiannya sejak kecil. Berhasil menyandang sarjana kedokteran pada 1990, Terawan memilih untuk mengabdikan diri di TNI Angkatan Darat.  Sejak itu dia ditugaskan di berbagai daerah, mulai Bali, Lombok dan terakhir di Jakarta.

Untuk memperdalam keilmuan, Terawan menempuh pendidikan spesialis radiologi intervensi di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Dalam perjalanan kariernya sebagai dokter TNI AD, Terawan kemudian dipercaya bertugas sebagai dokter kepresidenan dan berdinas di RSPAD Gatot Soebroto.

Tak mau berkutat dengan praktik kedokteran saja, pada 2013 Terawan memperdalam keilmuan dengan menempuh pendidikan doktoral di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan.

Dia lulus pada 2016 setelah berhasil mempertahankan disertasinya berjudul ”Efek Intra Arterial Heparin Flushing Terhadap Regional Cerebral Blood Flow, Motor Evoked Potentials, dan Fungsi Motorik pada Pasien dengan Stroke Iskemik Kronis”.

Terawan terkenal dengan metode penyembuhannya berupa cuci otak (brain wash). Dalam dunia kedokteran, metode itu tak dikenal. Istilah medis mengenalnya sebagai digital substraction angiography (DSA).

Metode ini dipertanyakan sejumlah kalangan karena dinilai tak ilmiah. Bahkan IDI kemudian menjatuhkan sanksi pemberhentian sebagai anggota per 26 Februari 2018 hingga 25 Februari 2019. Meski terus dipertanyakan, faktanya metode tersebut sukses menyembuhkan penderita stroke ringan ataupun berat.

Brain wash atau cuci otak itu tidak ada dalam istilah medis, yang dikenal itu DSA yang kami modifikasi dengan tujuan meningkatkan keamanan bagi pasien, keamanan dari radiasi, dari ancaman pada ginjalnya dan keamanan dari teknik tindakannya,” kata Terawan.

Pasien Terawan datang dari dalam dan luar negeri, dari orang biasa hingga pejabat negara. Sebut saja yang pernah ditangani dokter ramah ini seperti mantan Wapres Try Soetrisno, seniman Butet Kertaradjasa, mantan menteri BUMN Dahlan Iskan, mantan Menkumham Yusril Ihza Mahendra, dan mantan Kepala BIN Hendropriyono.

Ketika hadir di UGM beberapa waktu lalu Terawan menjelaskan bahwa terapi radiologi intervensi dapat menjadi alternatif yang menguntungkan bagi pasien. Terapi ini merupakan tindakan yang minimal invasif dan tepat sasaran dengan less risk, less pain, dan less recovery time dibanding dengan open surgery.

”Bahwa pengembangan teknologi kesehatan didukung dengan berbagai modalitas pendukungnya semakin membuka lebar peluang pengembangan radiologi intervensi di bidang cerebrivaskuler,” ujarnya dalam laman resmi UGM, dikutip Selasa (3/4/2018).

Menurut dia, DSA merupakan teknik radioimaging invansif untuk melihat gambaran pembuluh darah. Teknik ini dapat dilanjutkan dengan berbagai intervensi endovaskuler seperti pemasangan stent, coil, modifikasi flushing, ataupun modifikasi lain yang dapat memperbaiki kelainan cerebrovaskuler pada pasien.

Terawan menjelaskan, cerebrovascular disease (CVD) atau penyakit serebrovaskuler merupakan kasus neurologis yang menjadi penyebab terbesar morbiditas dan mortalitas. CVD menempati peringkat kedua penyakit tertinggi yang menyebabkan kematian, dan penyebab utama disabilitas jangka panjang pada orang dewasa.

Akademi  Ilmu Pengetahuan Yogyakarta (AIPYo) memberikan penghormatan atas prestasi Terawan dengan melantiknya sebagai anggota baru organisasi tersebut pada 2016. Dalam pelantikan, Terawan memberikan pidato inaugurasi bertajuk “Peran Radiologi dan Radiologi Intervensi dalam Prevensi Primer dan Sekunder pada Otak”.

Menurut AIPYo, penghargaan ini diberikan karena Terawan telah berkontribusi penting dalam mengembangkan teknik radiologi intervensi baru, yakni DSA yang dimodifikasi dengan Intra Arterial Heparin Flushing. Tindakan itu menjadi upaya sekunder pada gangguan aliran darah otak (cerebral blood flow/CBF), dengan tujuan mendukung pemulihan dan mencegah progressivitas iskemia.

PROFIL LENGKAP

Nama:
Mayjen TNI dr Terawan Agus Putranto Sp Rad (K).
Lahir: Sitisewu, Yogyakarta, 5 Agustus 1964.
Profesi: Tentara, dokter.
Jabatan:
- Kepala RSPAD Gatot Soebroto.
- Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Radiologi Indonesia.

Pendidikan:
- S1 Fakultas Kedokteran UGM, Yogyakarta.
- S2 Fakultas Kedokteran Unair, Surabaya.
- S3 Fakultas Kedokteran Unhas, Makassar.

Karya: Metode modifikasi digital substraction angiography (DSA) atau cuci otak.
Penghargaan:
- Bintang Mahaputra Naraya, 2013.
- Hendropriyono Strategic Consulting (HSC), 2015.
- Anggota Akademi  Ilmu Pengetahuan Yogyakarta (AIPYo), 2016.
- Achmad Bakrie Award Bidang Kedokteran, 2017. 

Editor : Zen Teguh