Dokter Ungkap Vape Tak Akan Selamatkan Remaja dari Rokok Tembakau, Ini Alasannya!
Menurutnya, temuan tersebut menjadi pengingat bahwa penggunaan vape pada kelompok usia anak dan remaja tidak boleh dianggap sebagai alternatif yang lebih aman. Risiko ketergantungan terhadap nikotin tetap ada dan justru dapat meningkatkan peluang seseorang beralih ke rokok tembakau.
Selain meningkatkan risiko menjadi perokok aktif, dr Adam juga mengingatkan bahwa kandungan nikotin dalam vape dapat mengganggu perkembangan otak anak dan remaja yang masih berada dalam masa pertumbuhan.
"Pada anak, nikotin dalam vape bisa bekerja langsung ke otak yang masih berkembang. Nikotin bisa mengganggu perkembangan otak anak, memengaruhi kontrol diri, kemampuan belajar, sampai risiko masalah perilaku," jelasnya.
Ia menambahkan, dampak nikotin terhadap otak anak dapat berpengaruh pada kemampuan belajar hingga pengendalian diri.
"Bayangin, bisa ngaruh ke otak, taruhannya masa depan anaknya," tambahnya.
Tak hanya itu, dr Adam juga menyoroti kandungan zat berbahaya dalam cairan vape. Menurutnya, cairan rokok elektrik mengandung formaldehid dan logam berat yang dapat merusak paru-paru serta berpotensi meningkatkan risiko kanker.
"Cairan vape mengandung formaldehid dan logam berat, zat-zat yang bisa merusak paru-paru dan berpotensi menyebabkan kanker," ujarnya.
Karena itu, dr Adam menilai anak dan remaja seharusnya dijauhkan dari penggunaan maupun promosi vape. Ia menegaskan, perlindungan terhadap kelompok usia muda perlu menjadi prioritas mengingat dampak nikotin tidak hanya dirasakan dalam jangka pendek, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan dan perilaku hingga dewasa.
Editor: Muhammad Sukardi