Hindari Dehidrasi, Masyarakat Indonesia Mulai Rajin Minum Air Putih

Vien Dimyati · Minggu, 11 November 2018 - 15:23:00 WIB
Hindari Dehidrasi, Masyarakat Indonesia Mulai Rajin Minum Air Putih
Masyarakat mulai rajin minum air putih (Foto: Mother Nature Network)

JAKARTA, iNews.id - Air putih sangat penting untuk mencegah dehidrasi tubuh. Cairan ini menjadi salah satu komponen penting dalam tubuh, maka itu jangan biarkan tubuh terkena dehidrasi.

Trennya saat ini, kesadaran masyarakat Indonesia untuk mengonsumsi air putih secara teratur mengalami peningkatan. Masyarakat paham mengenai manfaat air putih sangat penting terhadap kesehatan tubuh. Berdasarkan publikasi yang dikeluarkan Liq.in atau European Joural of Nutrition pada 2018, menunjukan masyarakat Indonesia mulai sadar tentang kebutuhan air putih untuk tubuh.

Berdasarkan data tersebut, sebanyak 78 persen anak, 79 persen remaja, 72 persen dewasa dari total 3.644 partisipasi di Indonesia sudah tercukupi kebutuhan airnya. Dalam pemenuhan cairan tersebut, air putih adalah kontributor total asupan cairan untuk seluruh umur.

Ahli Nutrisi dari Arizona State University, Amerika Serikat (AS), Prof Stavros A. Kavouras mengatakan, hasil penelitian Liq.in 7 tersebut memperlihatkan masyarakat Indonesia sudah memiliki kesadaran dalam memenuhi hidrasi sehat.

“Total asupan cairan masyarakat Indonesia sudah meningkat, tetapi hal tersebut diiringi juga dengan peningkatan asupan minuman bergula. Asupan minuman bergula yang berlebihan dapat secara signifikan meningkatkan risiko obesitas, diabetes mellitus dan dapat menyebabkan penyakit lain seperti ginjal,” kata Kavouras, di Jakarta belum lama ini.

Meski kesadaran mengonsumsi air putih sudah meningkat. Namun sayangnya, masyarakat Indonesia masih tinggi dalam mengonsumsi minuman bergula. Hal tersebut dapat dilihat berdasarkan dari sumber yang sama, yaitu sebanyak 24 persen anak, 41 persen remaja, dan 33 persen dewasa mengonsumsi ≥ 1 porsi (250mL) minuman bergula per hari.

Ketua Departemen Medical Physiology di Toulouse School of Medicine, Paul Sabatier France University, Prancis, Prof Ivan Tack menjelaskan, kebiasaan minum air yang sehat dapat menjaga kesehatan ginjal. “Minum air paling sedikit dua liter atau delapan gelas bagi orang dewasa dapat membantu mencegah penyakit batu ginjal, infeksi kandung kemih dan dapat membatasi perkembangan (progresi) dari penyakit ginjal akut,” katanya.

Ketua Indonesian Hydration Working Group (IHWG) Budi Wiweko menambahkan, kesadaran masyarakat di Indonesia terhadap pentingnya minum air masih sangat dipengaruhi oleh letak geografis dan status sosioekonomi, dan juga tersedianya akses air minum yang aman. Untuk mendorong perilaku masyarakat dalam memenuhi hidrasi sehat tersebut, IHWG beserta dengan PT. Tirta Investama (Danone-AQUA) dan Kementerian Kesehatan mengembangkan bebagai program untuk meningkatkan kesadaran akan hidrasi sehat yang dapat membantu perubahan perilaku hidup yang lebih sehat seperti penelitian, advokasi dan edukasi kepada masyarakat dengan program Ayo Minum Air (AMIR).

“Melalui program AMIR, kami berupaya untuk membiasakan perilaku minum air yang sehat kepada para siswa/i sekolah dasar dengan menyediakan gelas dan air saat makan siang di sekolah, selain itu kebiasaan perilaku siswa akan berubah bila di rumah pun juga menerapkan yang sama, sehingga penting kerjasama guru dan orangtuanya," ujarnya.

Untuk meningkatkan pengetahuan tentang manfaat air dan hidrasi sehat, berdasarkan kajian ilmiah terkini, Indonesian Hydration Working Group, salah satu kelompok kerja ilmiah Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) menggelar The 2nd Indonesian Hydration & Health Conference (IH2C) belum lama ini.

Konferensi kali ini diperuntukkan bagi dokter serta tenaga medis lainnya dari berbagai universitas di Indonesia. Selain pakar kesehatan dari dalam negeri. Hadir pula pakar kesehatan hidrasi internasional yaitu Professor Stavros Kavouras dari Arizona State University, USA, Professor Ivan Tack dari Toulouse School of Medicine Paul Sabatier University, France, Dr Joan Gandy dari Inggris, dan pakar dari China Prof Guansheng Ma. 

Editor : Vien Dimyati