Kaget! Indonesia Masuk 3 Besar Negara dengan Kasus Kusta Terbanyak di Dunia
Sementara itu, Ketua Dewan Pembina The Habibie Center, Ilham Akbar Habibie, menilai eliminasi kusta tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan kesehatan, tetapi juga memerlukan pendekatan sosial dan keagamaan. Ia menyoroti masih kuatnya kepercayaan kusta sebagai kutukan yang mengakar dalam budaya masyarakat.
“Meski sudah sembuh, banyak yang masih menyembunyikan riwayat kusta karena takut dikucilkan,” ujar Ilham.
Ilham menjelaskan bahwa pemerintah telah memasukkan skrining kusta dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG) sebagai langkah deteksi dini untuk mencegah kecacatan. Namun, menurutnya, kebijakan medis harus dibarengi dengan pendekatan budaya dan agama agar lebih diterima masyarakat.
Direktur Eksekutif The Habibie Center, Mohammad Hasan Ansori, menambahkan bahwa hasil riset awal di empat wilayah yaitu Probolinggo, Tojo Una-Una, Mimika, dan Lembata, menunjukkan persoalan kusta di Indonesia memiliki dua sisi besar yaitu aspek medis dan aspek sosial.
“Di beberapa daerah, kusta masih dianggap sebagai santet atau ilmu hitam. Banyak orang bergaul dengan penderita kusta tapi tidak tahu itu kusta,” ungkap Ansori.
Ia juga menyoroti keterbatasan dana dan ketersediaan obat sebagai tantangan lain, sementara jumlah pasien yang membutuhkan penanganan masih tinggi. Akibat stigma, banyak penderita dan penyintas kusta mengalami kesulitan bekerja, dikucilkan, hingga takut kembali bersosialisasi meski telah sembuh secara medis.
Editor: Muhammad Sukardi