Kajian Ilmiah Ungkap Cara Hentikan Kebiasaan Merokok dan Cegah Penyakit Degeneratif
Padahal, potensi yang bisa dimanfaatkan dari produk tembakau alternatif, seperti produk tembakau yang dipanaskan, rokok elektrik, dan snus, dapat membantu perokok dewasa yang tidak dapat berhenti merokok untuk beralih ke produk yang lebih rendah risiko.
Berdasarkan sejumlah kajian ilmiah, baik di dalam dan luar negeri, produk tembakau alternatif memiliki risiko yang jauh lebih rendah daripada rokok hingga 90% - 95%. Melalui fakta tersebut, sejumlah negara maju, seperti Inggris, Jepang, Korea Selatan, Selandia Baru, dan Kanada mendukung penggunaan produk tembakau alternatif untuk menekan jumlah perokoknya.
Senada dengan Profesor Tikki Pangestu, Peneliti dari Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP), Amaliya menilai, penerapan konsep pengurangan risiko tembakau dapat membantu mengatasi masalah rokok. “Dalam menanggulangi epidemi rokok ini ternyata tidak bisa hanya dengan dua opsi saja, berhenti atau mati. Untuk menanggulangi adiksi ini, sangat sulit untuk bisa langsung menghapuskan keperluan nikotinnya sampai nol,” kata dia.
Saat ini, masih banyak informasi yang tidak akurat beredar di masyarakat mengenai produk tembakau alternatif. Oleh karena itu, kajian ilmiah memiliki peran penting untuk meluruskan hal tersebut. Kajian ilmiah lokal masih perlu digiatkan dan butuh dukungan dari pemerintah, bahkan lembaga-lembaga pemerintah juga diminta melakukan kajian independen mengenai produk tembakau alternatif.
“Kajian ilmiah mengenai produk tembakau alternatif masih sangat terbatas di Indonesia saat ini. Jadi harus kita dorong agar semua pihak dapat melakukan dan mengedepankan kajian ilmiah ketika membahas produk tembakau alternatif," ujarnya.
Editor: Vien Dimyati