Penambangan Emas Tanpa Izin dan Bahaya Keracunan Merkuri yang Mengintai

Siska Permata Sari ยท Jumat, 02 Agustus 2019 - 22:06 WIB
Penambangan Emas Tanpa Izin dan Bahaya Keracunan Merkuri yang Mengintai

Waspadai bahaya mercuri. (Foto: iNews.id/Siska Permata Sari)

JAKARTA, iNews.id - Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Indonesia membawa sejumlah dampak buruk untuk berbagai sektor, mulai dari lingkungan, sosial hingga kesehatan. Hal ini tak lepas dari peran merkuri pada proses PETI atau penambangan ilegal tersebut.

Ada beberapa titik lokasi PETI yang telah terdampak oleh paparan merkuri tinggi di Indonesia. Salah satunya adalah daerah Sumbawa Barat, yang sungai, bahan pangan, hingga ternak telah terkontaminasi oleh merkuri.

"Pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh merkuri dan sianida di kabupaten sudah sangat masif, di mana pencemaran dilakukan mulai dari hulu hingga hilir sungai Kabupaten Sumbawa Barat," kata Ketua LSM Barma Fauzan Azima di acara diskusi bilangan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, Jumat (2/8/2019).

Dia menjelaskan, pencemaran lingkungan oleh merkuri dan sianida yang digunakan pada proses penambangan ilegal tersebut terjadi sejak 2010. Dia menyebut, kebutuhan merkuri di Sumbawa Barat mencapai angka 6,9 ton per bulan dan 20 ton  sianida per bulan.

"Keberadaan PETI di Kabupaten Sumbawa Barat ini sudah memberikan dampak negatif, mulai dari kerusakan hutan, pencemaran air sungai, tanaman pangan, hewan ternak, dan tren penyakit akibat merkuri dan sianida," kata Fauzan.

Lokasi paparan merkuri oleh penambangan emas ilegal di daerah Sumbawa Barat sendiri terjadi di kawasan Taliwang, Brang Rea, dan Seteluk.

"Sungai Kecamatan Brang Rea mulai tercemar merkuri dan sianida dari hulu ke hilir. Zona hilir mulai tercemar HG dengan kadar 0,023 MG/L yang melebihi baku mutu yang hanya 0,005 mg/l," kata dia.

Sementara itu, terkait emisi merkuri, di Indonesia mencapai 57 persen yang asalnya dari penambangan emas ilegal atau dua kali lipat angka produksi emas nasional. Hal tersebut diungkapkan Yuyun Ismawati dari Nexus3 Foundation yang sebelumnya dikenal sebagai BaliFokus Foundation berdasarkan data dari Global Mercury Assessment 2013.

"Mitosnya penambang di Indonesia itu, tambah merkuri agar bisa tambah dapat emasnya. Sehingga penggunaan merkuri di penambangan bisa dua kali lipat dari produksi emasnya," kata Yuyun di acara diskusi yang sama.

Pelepasan zat merkuri tersebut paling besar adalah udara, kemudian air dan tanah, sehingga potensi terpapar merkuri bagi masyarakat yang tinggal dekat penambangan sangat tinggi. Paparan merkuri inilah yang kemudian menimbulkan sejumlah masalah kesehatan.

Di Sumbawa Barat, beberapa masalah kesehatan yang sering ditemukan di wilayah penambangan ilegal di antaranya gangguan pada ginjal, paru-paru, jantung, syaraf, kejang, demam tinggi hingga cacat lahir bagi ibu hamil yang tinggal di sekitar tambang atau terlibat dalam proses penambangan.


Editor : Tuty Ocktaviany