Perut Begah dan Kembung? Coba 3 Gerakan 90 Detik Ini Bantu Gas Cepat Keluar
JAKARTA, iNews.id - Perut terasa penuh, begah, atau kram setelah makan bisa membuat aktivitas menjadi tidak nyaman. Saat gas terjebak di saluran pencernaan, banyak orang memilih rebahan atau diam. Padahal, tetap bergerak dengan aktivitas fisik ringan justru dapat membantu proses transit gas di dalam saluran cerna.
Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr Cecep Hermawan, membagikan trik sederhana selama 90 detik yang dapat dicoba ketika perut terasa kembung. Dia menyarankan tiga gerakan ringan yang dilakukan masing-masing selama 30 detik.
Gerakan pertama adalah memutar badan ke kiri dan kanan atau torso twist selama 30 detik. Menurut dr Cecep, gerakan tersebut dapat membantu mendorong pergerakan alami usus sehingga gas yang terperangkap lebih mudah berpindah.
"Kalau perut terasa begah atau kembung, coba putar badan ke kiri kanan 30 detik (torso twist). Gerakan muter badan ini ngebantu gerak alami usus biar gas yang numpuk lebih gampang jalan ke bawah," ujar dr Cecep, dikutip Minggu (13/9/2026).
Setelah itu, gerakan dilanjutkan dengan berjalan di tempat selama 30 detik. Aktivitas fisik ringan ini membantu tubuh tetap dalam posisi tegak sekaligus memberikan gerakan pada area perut dan saluran pencernaan.
"Riset buktikan cara ini mengurangi volume gas yang nyangkut sampai 50 persen," katanya.
Rangkaian tersebut kemudian ditutup dengan gerakan menarik lutut ke dada secara bergantian atau knee-to-chest selama 30 detik. Gerakan ini dapat membantu meregangkan sekaligus merilekskan area otot perut dan pinggul.
dr Cecep menjelaskan, gas dapat terperangkap di bagian tertentu dari usus besar. Karena itu, posisi tubuh yang pasif setelah makan dinilai kurang membantu proses perpindahan gas dibandingkan tetap melakukan aktivitas ringan.
"Kalau kamu langsung tiduran atau diam saja, gas ini makin sulit bergerak (transit) menuju pintu keluar. Faktanya, riset membuktikan posisi tiduran bikin gas tertahan jauh lebih lama di dalam perut dibanding posisi tegak," kata dr Cecep.
Selain gerakan 90 detik tersebut, dia membagikan sejumlah kebiasaan yang dapat dilakukan untuk membantu mengurangi risiko penumpukan gas.
1. Hindari menelan terlalu banyak udara
Salah satu kebiasaan yang dapat meningkatkan udara masuk ke saluran pencernaan adalah makan terlalu cepat atau terlalu banyak berbicara saat mengunyah. Karena itu, makan secara perlahan dan mengunyah makanan dengan baik dapat membantu mengurangi udara yang tertelan.
2. Beri jeda sebelum rebahan
Setelah makan, tubuh membutuhkan waktu untuk menjalankan proses pencernaan. Dr Cecep menyarankan memberikan jeda sebelum berbaring dan memanfaatkan posisi tubuh yang tegak.
"Jeda rebahan, gravitasi adalah sahabat pencernaan. Beri jeda minimal 2 jam setelah makan sebelum tiduran. Kalau ngantuk banget, posisi setengah duduk (senderan bantal tinggi) lebih aman daripada terlentang rata," ujarnya.
3. Kenali makanan pemicu gas
Setiap orang dapat memiliki pemicu kembung yang berbeda. Beberapa jenis makanan dan minuman yang pada sebagian orang dapat memicu produksi gas atau rasa kembung antara lain kol, ubi, minuman bersoda, serta produk susu pada orang yang mengalami intoleransi laktosa.
"Kenali pemicu gas, setiap perut beda, tapi 'tersangka' utamanya biasanya: kol, ubi, minuman bersoda, atau produk susu (kalau kamu tidak kuat laktosa). Perhatikan mana yang bikin kembung, lalu kurangi," katanya.
4. Gunakan kompres hangat
Ketika perut terasa kram atau tidak nyaman akibat gas, kompres hangat juga dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk membantu memberikan rasa nyaman. Suhu hangat dapat membantu merelaksasikan otot di area perut.
Meski kembung merupakan keluhan yang umum, kondisi tersebut tetap perlu diperhatikan apabila berlangsung terus-menerus atau disertai gejala lain. Pemeriksaan medis diperlukan jika kembung disertai nyeri hebat, muntah terus-menerus, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, atau buang air besar (BAB) berdarah.
"Kapan ke dokter? Jika kembung disertai nyeri hebat yang tidak tertahankan, muntah terus-menerus, penurunan berat badan tanpa sebab, atau BAB berdarah," kata dr Cecep.
Editor: Dani M Dahwilani