Sering Berpikir Negatif! Ini Dampaknya bagi Fungsi Otak
Pola berpikir negatif berulang juga dikaitkan dengan lebih tingginya akumulasi amyloid secara global serta tau di bagian entorhinal cortex, salah satu wilayah otak yang berkaitan dengan proses awal penyakit Alzheimer.
Repetitive negative thinking mencakup pola pikiran negatif yang terus berulang, seperti rumination atau terus memikirkan kejadian buruk di masa lalu. Selain itu, RNT juga dapat berupa kekhawatiran berulang mengenai hal-hal yang mungkin terjadi di masa depan.
Meski demikian, Adam menekankan adanya hal penting dalam penelitian tersebut. Studi ini menemukan hubungan atau asosiasi antara repetitive negative thinking dengan perubahan kognitif dan penanda Alzheimer, bukan membuktikan kebiasaan berpikir negatif secara langsung menyebabkan Alzheimer.
“Nah tapi, penelitian ini sifatnya baru mencari hubungan ya, bukan sebab-akibat,” ujar Adam.
Para peneliti menyebut masih diperlukan penelitian lanjutan untuk mengetahui apakah mengurangi repetitive negative thinking benar-benar dapat menurunkan risiko Alzheimer.
Adam pun mengingatkan temuan tersebut dapat menjadi perhatian untuk mulai mengelola kebiasaan berpikir negatif demi menjaga kondisi otak. “Namun tetap perlu jadi alarm untuk kita agar lebih mengelola kebiasaan berpikir negatif untuk menjaga kondisi otak,” katanya.
Editor: Dani M Dahwilani