Studi UGM: Vaksin DBD Berpotensi Turunkan Kasus Rawat Inap dan Kematian
Penelitian itu juga menemukan bahwa kepemilikan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) belum sepenuhnya menghilangkan beban finansial pasien. Peserta JKN masih harus mengeluarkan biaya mandiri untuk kebutuhan nonmedis, seperti transportasi dan akomodasi pendamping, serta menghadapi kehilangan pendapatan akibat tidak dapat bekerja selama masa perawatan.
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. Sri Rezeki Hadinegoro, Sp.A(K), mengatakan dampak dengue tidak hanya dirasakan dari sisi kesehatan, tetapi juga sosial dan ekonomi keluarga.
"Pada saat salah satu anak terserang infeksi dengue dan perlu perawatan di rumah sakit, maka orang tua harus mendampingi sehingga kehilangan waktu untuk bekerja dan mengurangi produktivitas. Demikian pula jika orang tua yang sakit, keluarga harus merawat dan dapat mengganggu suasana dan ekonomi keluarga," ungkap Prof Sri.
"Selain biaya perawatan dan pengobatan, dampak lain yang tidak tampak adalah terganggunya produktivitas, apalagi pemulihan dari infeksi dengue memerlukan waktu sekitar satu hingga dua minggu," sambungnya.
Prof. Sri menegaskan bahwa pengendalian dengue tidak bisa lagi hanya mengandalkan upaya konvensional seperti 3M Plus. Menurutnya, diperlukan pendekatan yang lebih menyeluruh melalui kolaborasi berbagai pihak.