Tak Hanya Lansia, Penyakit Jantung Kini Incar Anak Muda akibat Gaya Hidup
"Gen Z yang hobi makan dan minum manis, tiap hari harus ada yang manis-manis. Konsumsi gula yang melebihi batas rekomendasi harian (maksimal 50 gram/hari) membuat kita berisiko terkena diabetes. Diabetes inilah yang meningkatkan risiko sakit jantung di kemudian hari," katanya.
Tak hanya gula, konsumsi makanan cepat saji dan ultra-processed food (UPF) yang tinggi garam juga berpotensi memicu hipertensi. Jika tidak dikendalikan, tekanan darah tinggi dapat menyebabkan kerusakan pada jantung dan pembuluh darah.
"Makanan cepat saji dan UPF tinggi akan garam. Kelebihan konsumsi garam harian (lebih dari 5 gram/hari) meningkatkan risiko hipertensi. Hipertensi yang tidak dikontrol bisa berujung pada sakit jantung," ujarnya.
Faktor lain yang tak kalah penting adalah minimnya aktivitas fisik. Gaya hidup sedentari atau terlalu banyak duduk membuat berat badan meningkat dan memicu sindrom metabolik yang memperberat kerja jantung.
"Gen Z yang hobinya mager dan tidak ada waktu khusus olahraga, lingkar perutnya akan bertambah. Lama-lama ini memicu sindrom metabolik. Jantung yang tidak pernah dilatih dengan olahraga kardio sangat rentan sakit. Makin gemuk seseorang, kerja jantungnya pun makin berat," katanya.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebut kebiasaan-kebiasaan tersebut dapat memicu penyakit jantung kronis hingga gagal jantung, yakni kondisi ketika jantung tidak mampu memompa darah secara optimal ke seluruh tubuh.
Sebab itu, para ahli mengingatkan pentingnya menerapkan pola hidup sehat sejak usia muda. Menghindari rokok, membatasi konsumsi gula dan garam, mengurangi makanan cepat saji, serta rutin berolahraga menjadi langkah sederhana yang dapat membantu menekan risiko penyakit jantung di masa depan.
Editor: Dani M Dahwilani