Tidur Tanpa Bantal Benarkah Baik untuk Tulang Belakang? Begini Penjelasan Dokter
JAKARTA, iNews.id – Banyak orang percaya tidur tanpa bantal dapat membantu mengatasi nyeri atau gangguan pada tulang belakang. Namun, anggapan tersebut ternyata tidak berlaku untuk semua kondisi. Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Tirta Mandira Hudhi, menegaskan manfaat tidur tanpa bantal bergantung pada bagian tulang belakang yang mengalami masalah.
Dalam unggahan video di kanal YouTube miliknya, dr. Tirta menjelaskan bahwa tulang belakang terdiri atas beberapa segmen, yakni servikal (leher), torakal (punggung tengah), lumbal (pinggang bawah), dan sakral. Masing-masing memiliki karakteristik gangguan serta penanganan yang berbeda.
"Tergantung, tulang belakang tuh luas. Ada segmen servikal, torakal, lumbal, dan sakral," kata dr. Tirta, dikutip Minggu (2/8/2026).
Dia menjelaskan gangguan pada tulang belakang sangat beragam, mulai dari kompresi, fraktur, dislokasi, hingga hernia nukleus pulposus (HNP) atau saraf terjepit. Karena itu, tidur tanpa bantal tidak bisa dianggap sebagai solusi untuk seluruh masalah tulang belakang.
"Jadi kalau dijawab masalah pada tulang belakang selesai tidur tanpa bantal, tidak menjawab solusi," katanya.
Menurut dr. Tirta, tidur tanpa bantal atau menggunakan bantal yang lebih rendah umumnya hanya bermanfaat bila keluhan berasal dari area leher atau segmen servikal. Bantal yang terlalu tinggi dapat membuat otot leher menjadi tegang dan mengubah kelengkungan alami tulang belakang.
"Misal bagian servikal, bantal terlalu tinggi, jadi menyebabkan tension pada otot-otot di leher trapezius, sternocleidomastoideus dan servikalnya jadi melengkung. Bener (bisa tanpa bantal/dikurangi tinggi bantalnya)," ujarnya.
Namun, kondisi tersebut berbeda jika gangguan berada di area lumbal atau pinggang bawah. Pada kasus seperti ini, tidur tanpa bantal tidak memberikan efek penyembuhan. Yang dibutuhkan justru penyangga atau lumbar support agar posisi tulang belakang tetap ergonomis.
Dia mencontohkan penggunaan penyangga di bagian pinggang saat duduk dalam waktu lama, seperti ketika bepergian menggunakan kereta.
"Makanya banyak orang yang nggak nyaman duduk di kereta, bantalnya tuh bukan buat leher, bantalnya dikasih di belakang lumbal biar ada lumbal supportnya. Gitu jawabannya. Jadi, tergantung masalahnya di segmen tulang belakang mana," katanya.
Sementara itu, gangguan pada segmen torakal atau punggung bagian tengah dinilai lebih kompleks. Menurut dr. Tirta, kelainan di area ini kerap berkaitan dengan skoliosis yang cukup banyak dialami perempuan.
Dia mengingatkan skoliosis dengan derajat berat tidak dapat diatasi hanya dengan mengubah posisi tidur atau melepas bantal. Kondisi tersebut memerlukan penanganan dokter spesialis ortopedi konsultan tulang belakang.
"Kalau skoliosisnya lebih dari 25 derajat, sudah harus mengalami tindakan operasi. Karena kalau derajat skoliosisnya lebih dari 25 derajat, itu bisa menyebabkan gangguan organ di sekitar situ lambung, paru, hepar," katanya.
dr Tirta mengimbau masyarakat tidak mudah percaya pada anggapan bahwa satu metode dapat mengatasi seluruh gangguan tulang belakang. Penanganan harus disesuaikan dengan lokasi dan penyebab keluhan agar terapi yang diberikan tepat sasaran.
Editor: Dani M Dahwilani