Pianis Indonesia Alfred Young Kembali ke Panggung Eropa, Tampil di Wina Bersama Orkestra
JAKARTA, iNews.id - Pianis virtuoso asal Indonesia, Alfred Young Sugiri, kembali menghentak panggung musik klasik Eropa. Musisi asal Bandung yang merupakan lulusan Jerman ini resmi diundang sebagai solis utama bersama Hungarian State Symphony Orchestra of Szolnok dalam konser di ORF Radiokulturhaus (Großer Sendesaal), Wina, Austria, pada 1 Oktober 2026.
Konser tersebut dipimpin konduktor asal Amerika Serikat, Everett McCorvey, dan turut menampilkan violinis kenamaan Maria Solozobova. Penampilan ini menjadi kesempatan bagi Alfred untuk kembali menunjukkan kiprahnya di panggung musik klasik Eropa.
"Dapat undangan tampil lagi di Eropa kali ini rasanya campur aduk—antara senang, deg-degan, nervous, dan bangga karena masih diberi kepercayaan oleh Tuhan untuk tampil di hadapan publik Eropa. Tidak mudah untuk mendapatkan kepercayaan di panggung musik klasik Eropa, apalagi bisa tampil dalam konser tertutup yang sifatnya sangat eksklusif di Hungaria serta panggung megah di Wina. Ini kehormatan besar bagi saya," kata Alfred Young Sugiri dalam keterangannya, Selasa (29/9/2026).
Kembalinya Alfred ke Eropa pada 2026 bukan tanpa alasan. Perjalanan kariernya di benua tersebut telah dimulai sejak bergabung dengan manajemen artis Jerman pada 2015. Sejak saat itu, dia tampil dalam berbagai ajang bergengsi, di antaranya Bach International Festival, Brahms Festival, Yamaha Foundation of Europe, C. Bechstein, hingga DAAD Preis.
Rangkaian tur Eropa kali ini mencakup dua agenda, yakni konser privat eksklusif di Hungaria dan konser terbuka di Wina. Pertunjukan di Wina diproyeksikan dihadiri 1.500 hingga 2.000 penonton.
Penampilan tersebut juga menandai kembalinya Alfred ke Wina setelah terakhir kali tampil di kota tersebut pada 2012–2013. Sementara penampilan terakhirnya di Eropa secara umum berlangsung pada 2016. Pada 2026, dia kembali mendapatkan undangan untuk tampil di Wina.
Sementara itu, konser di Hungaria menjadi pengalaman pertama Alfred mendapat kepercayaan tampil di negara tersebut. Pertunjukan digelar secara privat sehingga tidak ada penjualan tiket dan hanya disaksikan kalangan terbatas.
Dalam rangkaian konser tersebut, Alfred dipercaya membawakan salah satu karya monumental Wolfgang Amadeus Mozart, yaitu Mozart Piano Concerto in A Major No. 23, K. 488.
Turunkan Berat demi Stamina
Menghadapi karya Mozart berdurasi sekitar setengah jam secara nonstop bersama 40 musisi orkestra, Alfred melakukan persiapan fisik secara serius. Dia berhasil menurunkan berat badan hingga 13 kilogram dalam waktu satu setengah bulan.
Menurut Alfred, kondisi fisik menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kualitas permainan piano. Stamina yang prima dibutuhkan untuk mempertahankan konsentrasi, pernapasan, dan artikulasi selama tampil.
"Bermain piano itu pada dasarnya menyatukan tubuh, jiwa, dan otak. Jika stamina tidak fit, pernapasan saat bermain bisa terengah-engah dan mengganggu artikulasi musik. Dengan stamina fisik yang prima, permainan piano jadi hidup, berkarakter, dan auranya muncul. Alunan irama yang dihasilkan mampu menghanyutkan imajinasi, perasaan, serta emosi para pendengar," kata Alfred.
Di panggung Wina, Alfred akan berkolaborasi dengan konduktor Everett McCorvey. Sementara Maria Solozobova juga tampil dalam konser tersebut, tetapi mengisi sesi yang berbeda.
Mengenai persiapan konser, Alfred mengatakan latihan bersama orkestra profesional di Eropa biasanya hanya dilakukan sekali atau dua kali. Kepekaan pendengaran menjadi salah satu aspek penting karena konduktor memiliki peran dalam mengatur tempo dan permainan seluruh musisi.
Di Hungaria, Alfred dijadwalkan menjalani latihan pada pagi hari sebelum tampil pada sore harinya. Pola serupa juga diterapkan dalam konser di Wina.
"Di Wina ini saya juga berlatih pagi hari, dan pada sore hari yang sama langsung tampil di atas panggung," kata Alfred.
Perjalanan di Dunia Musik
Alfred lahir di Bandung pada 1991. Dia memulai perjalanan musiknya dengan bimbingan sejumlah guru di Indonesia, seperti Nancy Lukman, Didi Kasman, dan Iswargia R. Sudarno.
Sejak usia muda, dia telah meraih prestasi dalam berbagai kompetisi nasional, termasuk Yamaha Piano Competition dan Universitas Pelita Harapan Competition.
Saat berusia 18 tahun, Alfred melanjutkan pendidikan musik formal ke Jerman. Dia menempuh pendidikan di Musikhochschule Detmold dan Musikhochschule Lübeck hingga meraih gelar Bachelor dan Master of Music dengan predikat kelulusan tertinggi, Sehr Gut.
Kemampuan teknis dan artistiknya kemudian membawanya mendapatkan sejumlah beasiswa masterclass bergengsi bersama maestro musik dunia.
Alfred juga memperdalam kemampuan memainkan harpsichord bersama Profesor Hans Jürgen Schnoor di Musikhochschule Lübeck. Dia kemudian mendapat beasiswa masterclass bersama Profesor Evgeny Koroliov di Hochschule für Musik und Theater Hamburg.
Dia juga berkesempatan berkolaborasi dengan komponis kontemporer asal Jerman, antara lain Prof Theo Brandmuller dan Prof Jan Müller-Wieland.
Selain itu, Alfred memprakarsai Bach Project, sebuah program yang memberikan kesempatan kepada musisi muda Indonesia untuk membawakan seluruh karya Invention dan Sinfonia karya JS Bach menggunakan instrumen harpsichord.
"Selama ini masih sangat langka musisi asal Indonesia yang diundang tampil di panggung konser musik klasik Eropa. Melalui penampilan ini, saya ingin membuktikan kepada anak-anak muda Indonesia bahwa dihargai di panggung orkestra dunia bukanlah hal yang mustahil diraih," ujar Alfred.
Dia juga menyoroti dukungan pemerintah terhadap perkembangan musik klasik di Eropa. Menurut Alfred, dukungan tersebut membuat musik klasik dapat diakses oleh berbagai lapisan masyarakat, termasuk komunitas jalanan, hingga membuka peluang bagi seseorang untuk berkembang menjadi musisi profesional dan profesor di sekolah musik.
Alfred berharap pemerintah Indonesia dapat semakin menjembatani dan memfasilitasi perkembangan seni musik bagi masyarakat luas.
"Saya berharap pemerintah di Indonesia bisa semakin menjembatani dan memfasilitasi perkembangan seni musik bagi semua lapisan masyarakat. Di dalam musik ada pelajaran struktur, perhitungan matematika, dan pelatihan olah rasa yang tidak didapatkan dari ilmu eksak. Musik bukan sekadar hiburan mewah, tetapi sarana pembentukan karakter bangsa," kata ayah dua anak tersebut.
Penampilan Alfred Young Sugiri bersama Hungarian State Symphony Orchestra of Szolnok pada 1 Oktober 2026 di Wina menjadi bagian penting dalam perjalanan kariernya. Panggung tersebut sekaligus menjadi kesempatan bagi pianis asal Indonesia untuk kembali tampil di hadapan publik musik klasik Eropa.
Editor: Dani M Dahwilani