Apa yang Dimaksud dengan Hari Tasyrik? Begini Penjelasannya Dalam Hadits
Di Hari Tasyrik, umat Islam dilarang berpuasa karena hari-hari tersebut masih satu rangkaian dengan Idul Adha. Sebaliknya, di Hari tasyrik itu diperintahkan makan dan minum serta banyak berdzikir dengan mengumandangkan takbir, tahlil, tasbih dan tahmid selepas shalat lima waktu.
Ulama berbeda pendapat mengenai hari tasyrik. Miqsam meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa ayyamam ma'dudat atau 'hari-hari yang berbilang' adalah hari-hari tasyrik, yaitu selama empat hari, dimulai dari Hari Raya Kurban hingga tiga hari berikutnya yakni tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.
Ali ibnu Abu Talib ra mengatakan bahwa hari-hari tasyrik itu adalah tiga hari (yaitu Hari Raya Kurban dan dua hari sesudahnya). Berkurbanlah di hari mana pun yang kamu sukai (di antara ketiga hari itu). Akan tetapi, yang paling utama ialah pada hari pemulaannya.
Dinamakan tasyrik karena di hari-hari tersebut daging-daging qurban didendeng (dipanaskan di bawah terik matahari).
Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa Ibnu Abbas mengatakan, yang dimaksud dengan hari-hari yang berbilang ialah hari-hari tasyrik (menjemur dendeng); juga dikenal dengan sebutan hari-hari yang telah diketahui, yaitu hari belasan.