Hikmah

Cara Membersihkan Najis dalam Islam agar Ibadah Diterima Allah

Kastolani · Selasa, 23 Maret 2021 - 07:36:00 WIB
Cara Membersihkan Najis dalam Islam agar Ibadah Diterima Allah
Muslim perlu mengetahui cara membersihkan najis dari hewan anjing. (Foto: Antara)

JAKARTA, iNews.id - Cara membersihkan najis perlu diketahui Muslim agar ibadah yang dijalankan baik sholat, membaca Alquran maupun ibadah lainnya diterima Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sebab, salah satu syarat sah dan kunci diterimanya ibadah yakni suci dari najis.

Rasulullah SAW bersabda:

ابْنَ عُمَرَ قَالَ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا تُقْبَلُ صَلَاةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ وَلَا صَدَقَةٌ مِنْ غُلُولٍ

Ibnu Umar berkata, Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Tidak diterima shalat tanpa bersuci, dan tidak diterima sedekah dari curian (harta ghanimah).” (HR. Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah) [No. 224 Syarh Shahih Muslim] Shahih.

Pengertian najis dalam Islam adalah setiap benda yang haram untuk dimakan secara mutlak (kecuali dalam keadaan terpaksa) bukan karena menjijikan. Najis terbagi dalam tiga macam yakni, najis mugholadoh (berat), najis mutawassithah (sedang) dan najis mukhaffafah (ringan).

Berikut tiga golongan najis dalam fikih Islam:

1. Najis Mugholadoh

Najis mugholdoh atau najis berat ini bersumber dari hewan anjing atau babi. Cara menyucikan najis ini adalah dengan membasuh tujuh kali menggunakan air dan cucian yang pertama atau salah satunya menggunakan tanah, debu atau lumpur maupun semacamnya. Cara yang sama dilakukan untuk menyucikan najis yang berasal dari babi.

Ketentuan ini berdasarkan hadis riwayat al-Imam al-Bukhari dan Muslim, Nabi SAW bersabda:

طَهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيهِ الْكَلْبُ، أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُولَاهُنَّ بِالتُّرَابِ

Artinya: “Cara menyucikan bejana dari seseorang di antara kalian jika dijilat anjing adalah dengan mencucinya tujuh kali, cucian yang pertama menggunakan tanah”.

Benda dan sifat najis harus sudah hilang pada saat basuhan pertama. Jika tidak, maka harus diulang-ulang sampai hilang, baru dilanjutkan dengan basuhan kedua, ketiga dan seterusnya sampai ketujuh. Jadi, yang dianggap sebagai basuhan pertama adalah basuhan yang menghilangkan benda dan sifat dari najis mughallazhah. Jika masih belum hilang, maka belum bisa dianggap satu basuhan. Campuran debu bisa diletakkan dalam basuhan yang mana saja. Tapi yang lebih utama pada saat basuhan pertama. Jika air yang digunakan adalah air keruh dengan debu, semisal air banjir, maka sudah dianggap cukup tanpa harus mencampurnya dengan debu.

Editor : Kastolani Marzuki

Halaman : 1 2 3