Hikmah

Naskah Khutbah Jumat: Tradisi di Bulan Ramadhan

Kastolani · Kamis, 08 April 2021 - 20:39:00 WIB
Naskah Khutbah Jumat: Tradisi di Bulan Ramadhan
Jamaah shalat Jumat di Masjid Al Manar, Wonosidi Lor, Wates, Kulonprogo. (Foto: iNews/Kuntadi)

JAKARTA, iNews.id - Hari Jumat merupakan waktu istimewa bagi Muslim, khususnya kaum laki-laki karena diwajibkan untuk melaksanakan sholat Jumat. Kewajiban ini diperuntukkan bagi yang mukim dan tidak ada halangan syar'i.

Salah satu syarat sah dalam sholat Jumat yakni khutbah. Saat khatib sedang berbicara atau khutbah, jemaah dianjurkan untuk mendengarkan agar ibadah jumatnya tidak sia-sia.

Rasulullah SAW bersabda:

إذا قلت لصاحبك يوم الجمعة أنصت والإمام يخطب فقد لغوت

Artinya: “Jika engkau berkata kepada temanmu pada hari jum’at, ‘diam dan perhatikanlah’, sedangkan imam sedang berkhutbah, maka engkau telah berbuat sia-sia.” (HR. Al-Bukhari [934].

Berikut naskah khutbah Jumat Ramadhan tentang Tradisi di Bulan Ramadhan oleh KH Ade Muzaini Aziz, Lc. MA, Pengurus Lembaga Dakwah PBNU dikutip iNews.id dari dakwahnu.id.

Khutbah 1

 ألحمد لله الملك العلاّم, الذى أبدع خلق اْلأنام, و أوجب عليه ذاك الصيام. ليعتادوا الصبر على ألم العطش و الجوع, و ليشعروا بمساواة الأفراد و الجموع, و ليعبدوا ربهم فى تصبر و خشوع.

أشهد ان لا إله إلا الله وحده لا شريك له, زين السماء بمصابيح النجوم, و أنزل المطر من السحب و الغيوم. و أشهد أن سيدنا محمدا عبده و رسوله, أَكثر صيامه لله, و خشع فى عبادته لمولاه.

أللهم صلّ على سيّدنا محمّد صلاة تقضي بها حاجاتنا و تفرّج بها كُرباتِنا و تكفينا بها شرّ أعدائنا و سلّم عليه و على آله و صحبه تسليما كثيرا.

قال الله تعالى في محكم تنزيله:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ.

و قال جلّ جلاله:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

صدق الله العظيم.

أوصيكم و إياي نفسى بتقوى الله فقد فاز المتقون. أما بعد.

Zumratal Muwahhidiin a’aazaaniillaahu wa iyyaakum ajma’iin

Jika kita lihat kamus Al-Mawrid (Arabic-English) karya DR. Rohi Ba’albaki, atau A Dictionary of Modern Written Arabic (Arabic-English) karya Hans Wehr, maka kita dapatkan bahwa salah satu arti dari kata “sunnah” adalah “tradition” atau tradisi dan “Habitual Pratice” atau kebiasaan praksis. Juga kita dapatkan bahwa kitab Al-Mu’jam Al-Mufahras li Alfâzhil Hadîts an-Nabawiy yang disusun oleh para orientalis di bawah pimpinan A. J. Wensinck (pakar kebudayaan Arab dari Universitas Leiden, Belanda), menggunakan kata “tradition” (dalam bahasa Prancis) untuk mewakili kata “hadits” Nabi. 

Dari sini bisa diambil benang merah bahwa agenda “Menghidupkan Tradisi Bulan Ramadhan” –yang merupakan tema khutbah Jumat kali ini– semestinya merujuk dan bersumber langsung kepada referensi tradisi otentik Islam, yaitu sunnah atau hadits-hadits atau tradisi yang diwariskan oleh Rasulullah Saw.

Banyak sekali tradisi Ramadhan yang telah Rasulullah wariskan kepada kita melalui sunnah atau hadits-hadits beliau, antara lain: Tarawih, memperbanyak kebaikan dan kedermawanan, berbuka puasa dan menyegerakannya serta mendahuluinya dengan kurma basah atau kering yang ganjil atau meneguk air putih beberapa tegukan.

Selain itu, shadaqah agar orang lain dapat berbuka; sahur dan mengakhirkannya; i’tikaf; do’a mustajab sepanjang berpuasa lebih lagi saat berbuka; mudaarasah atau tadarus al-Qur`an, dll. 

Editor : Kastolani Marzuki