Hikmah

Naskah Khutbah Jumat: Tradisi di Bulan Ramadhan

Kastolani · Kamis, 08 April 2021 - 20:39:00 WIB
Naskah Khutbah Jumat: Tradisi di Bulan Ramadhan
Jamaah shalat Jumat di Masjid Al Manar, Wonosidi Lor, Wates, Kulonprogo. (Foto: iNews/Kuntadi)

Fokus kita kali ini adalah kebiasaan atau tradisi atau sunnah Nabi SAW. di bulan Ramadhan untuk mudârasah al-Qur`an, sebagaimana terekam dalam hadits berikut:

عن ابن عباس قال: كان رسول الله صلى الله عليه و سلم أجود الناس وكان أجود ما يكون في رمضان حين يلقاه جبريل وكان يلقاه في كل ليلة من رمضان فيدارسه القرآن فلرسول الله صلى الله عليه و سلم أجود بالخير من الريح المرسلة (متفق عليه)

Ibnu Abbas ra. berkata: Sesungguhnya Rasulullah Saw. adalah manusia paling dermawan, dan ia berada dalam kondisi terdermawannya ketika di bulan Ramadhan, yaitu ketika Malaikat Jibril menemuinya. Dan Malaikat Jibril senantiasa menemuinya pada setiap malam Ramadhan untuk mudârasah al-Qur`an. Dan keadaan Rasulullah ketika ia ditemui oleh Malaikat Jibril adalah lebih dermawan daripada angin yang berhembus. (HR. Bukhari-Muslim)

Sidang Jum’at yang dirahmati Allah SWT.

Mudaarasah atau menyelami lautan mutiara ajaran Al-Qur’an bersama Rûhul Quds, Jibril as., inilah salah satu tradisi yang dilakukan Rasulullah di bulan Ramadhan. Betapa Rasulullah dalam kapasitasnya selaku penerima langsung wahyu Allah (al-Qur`an), beliau masih berupaya memahami kandungan al-Qur`an bersama teman belajarnya yang teramat mulia, Malaikat Jibril as. 

Maka tidak heran bila beliau adalah manusia terbaik yang pernah terlahir di bumi. Juga tidak aneh, ketika Ummul mu’minin Aisyah ra. ditanya tentang bagaimana akhlak Nabi, maka dengan tegas ia menjawab  ”كان أخلاقه القرآن“ bahwa akhlak Nabi sangat sesuai dengan Al-Qur’an. Yang demikian dapat terjadi, hanya karena Nabi benar-benar telah memahami dan meresapi ajaran mulia Al-Quran.

Sidang Jum’at yang dirahmati Allah SWT.

Agar menghidupkan tradisi membaca al-Qur`an di bulan Ramadhan bisa dilakukan secara efektif dan optimal, maka hendaknya syarat utama dipenuhi, yaitu haqqa tilâwatih, sebagaimana firman Allah SWT di dalam Surah Al-Baqarah ayat 121:

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ أُولَئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Artinya: Orang-orang yang telah Kami berikan al-Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan haqqa tilaawatih, mereka itu beriman kepadanya, dan barangsiapa yang ingkar kepadanya maka mereka itulah orang-orang yang merugi.

Menurut Imam Al-Ghazali, yang dimaksud haqqa tilâwatih adalah membaca al-Qur`an dengan melibatkan baik lisan, akal maupun kalbu. Lisan bertugas membacanya dengan benar sesuai kaidahnya, akal bertugas memahami artinya, dan kalbu bertugas meresapi dan merenungi segala maknanya agar dapat mengambil nasihat dan pelajaran serta mentaati segala perintah dan larangannya.

Editor : Kastolani Marzuki