Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Teks Khutbah Jumat 30 Oktober 2026 Singkat Menyentuh Hati: Karhutla dan Teguran Allah
Advertisement . Scroll to see content

Teks Khutbah Jumat 6 November 2026 Paling Bagus tentang Hari Pahlawan, Meneladani Para Pejuang

Kamis, 05 November 2026 - 16:52:00 WIB
Teks Khutbah Jumat 6 November 2026 Paling Bagus tentang Hari Pahlawan, Meneladani Para Pejuang
Umat Islam khusyuk mendengarkan khutbah Jumat di Masjid Istiqlal, Jakarta. (Foto: Dok.iNews)
Advertisement . Scroll to see content

Jiwa kepahlawanan para syuhada kusuma bangsa tidak boleh mati, akan tetapi terus hidup. Kegiatan menghidupkan kembali jiwa dan rasa kepahlawanan ini dengan memperingati peristiwa 10 Nopember sebagai hari pahlawan.

Berikutnya adalah perjuangan fisik bersenjata memang telah usai, akan tetapi perjuangan non fisik terus berlanjut. Penjajahan akan berubah dalam rupa rupa kehidupan, wujudnya adalah kemalasan, kebodohan, keserakahan, korupsi, kolusi dan disintegrasi bangsa. Tidak berlebihan, bahwa perjuangan akan semakin berat dan terjal.

Sekali lagi kita sebagai umat Islam, kaum muslimin untuk waspada dan mawas diri. Kaum muslimin begitu lekat diajarkan untuk mensyukuri segala macam nikmat. Termasuk nikmat kemerdekaan yang telah susah payah digapai oleh para syuhada, para pahlawan kusuma bangsa. Mawas diri dari masing-masing pribadi sebagaimana perinagatan dari Allah subhanahu wata'ala dalam surat Ibrahim ayat 7 :

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

Artinya: "Dan (Ingatlah), tatkala Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat pedih."

Kesadaran sebagai perasaan senasib sepenangungan, yang telah menjadikan suku-suku bangsa ini sebagai negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjadi pesan yang harus selalu diingat. Persatuan dan kesatuan bangsa menjadi kata kunci bagi siapa pun yang akan memimpin negeri ini, bagi para pemuda- pemudi Indonesia, dan bagi kita semua.

Bentuk kesyukuran menjadi pemandu arah berkehidupan dan bernegara agar kita mampu mengelola kekayaan alam Indonesia ini sebagai sumber daya yang dapat memberikan output kemaslahatan. Bukan malah sebaliknya kekayaan sumber daya alam menjadi semacam mantra yang meninabobokkan kehidupan dengan semena-mena, pengguanaan melampui batas, dalam kalimat satir, kekayaan sumber daya alam Indonesia hanya menjadi polemik, rebutan, dan malah dikuasai oleh korporat, kepentingan asing, ataupun kepentingan segelintir orang dan golongan saja, oleh karena kita tidak dimampukan untuk mengolah dengan segala keterbatasan akses ilmu dan ketiadaan peralatan.

Di tangan lintas generasi, baik generasi tua dan generasi muda, untuk berkiprah menjadi pahlawan-pahlawan iptek, saintis, aristokrat, politikus, ekonom, untuk memotong mata rantai dari siklus negatif.

Point penting selanjutnya adalah menghidupkan ruh kepahlawanan. Jiwa kepahlawanan dalam masyarakat di Indonesia juga jangan sampai hilang tergerus oleh sikap egoisme, hal ini menjadi refleksi bagi kita semua. Sikap sikap gotong royong, sikap menolong sesama, sikap guyub dan kebersamaan. Kultur bangsa ini telah dikenal dunia sebagai bangsa yang ramah, murah senyum.

Hal ini diakui oleh orang-orang luar negeri namun kita tidak menjadi ramah dengan tetangga sendiri, teman sejawat, dengan bangsa sendiri. Bangsa kita Indonesia memiliki ragam kebudayaan, ragam agama dan kepercayaan namun saat ini ada kelompok yang menanamkan kebencian untuk tidak menghargai perbedaan.

Hal ini menjadi refleksi bagi kita semua, keragaman dan kemajemukan telah lama ada dan berkembang di bumi Indoensia, lalu kita dihadapkan pada pemaksaaan untuk menihilkan kebudayaan, menihilkan tradisi, menihilkan kebhinekaan. Ini menjadi tugas kita semua dengan momentum hari dan bulan pahlawan ini kita melihat kembali dan menghargai jasa para pahlawan founding fathers termasuk ulama didalamnya, kita yang telah berupaya mencari jalan tengah sebagai negara yang berlandaskan Pacasila, UUD 1945 sebagai pegangan dan pedoman hidup berbangsa dan bernegara.

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut