Profil Yayoi Kusama, Seniman Legendaris Jepang yang Meninggal Dunia di Usia 97 Tahun
Pengulangan tersebut kemudian menjadi bagian dari gagasan yang disebut Kusama sebagai self-obliteration, yakni gagasan tentang penghapusan batas diri melalui pola yang terus berkembang dan berulang.
Kusama kemudian tidak hanya menggunakan pola tersebut dalam lukisan, tetapi juga mengembangkannya menjadi patung, instalasi, performance art dan berbagai bentuk karya lainnya.
Pada era 1960-an, Kusama semakin aktif dalam dunia seni New York. Ia mengembangkan berbagai bentuk karya, mulai dari lukisan, patung lunak, instalasi, happening, performance art, film hingga fashion.
Ia juga membuat sejumlah aksi seni yang berkaitan dengan isu sosial dan perdamaian, termasuk aksi anti-perang. Pada periode ini, Kusama berinteraksi dengan sejumlah seniman penting yang kemudian menjadi bagian dari sejarah seni modern Amerika.
Museum of Modern Art (MoMA) mencatat Kusama sebagai bagian penting dari skena avant-garde New York sejak akhir 1950-an hingga awal 1970-an. Praktiknya bersinggungan dengan berbagai perkembangan seni seperti Abstract Expressionism, Minimalism, Pop Art dan Feminist Art, meski Kusama selalu memiliki pendekatan artistiknya sendiri.