AS Kerahkan Pasukan Luar Angkasa ke Semenanjung Arab, Ada Apa?
Ancaman dari pesaing global meningkat sejak Perang Teluk pada 1991, saat itu militer AS pertama kali mengandalkan koordinat GPS sebagai informasi untuk memberi tahu posisi pasukan di gurun.
Sementara itu Benson menolak menyebut negara-negara agresif yang akan dipantau oleh para personelnya. Namun keputusan untuk mengerahkan personel Angkatan Luar Angkasa di Al Udeid dibuat berdasarkan perkembangan ketegangan selama beberapa bulan terakhir antara AS dan Iran.
Pada musim semi ini, Garda Revolusi Iran meluncurkan satelit militer pertamanya ke luar angkasa. Para ahli yakin pengiriman satelit itu merupakan program militer luar angkasa militer yang rahasia.
Sementara itu Pemerintahan Presiden Donald Trump menjatuhkan sanksi baru terhadap badan antariksa Iran dengan alasan negara itu tengah mengembangkan rudal balistik di bawah kedok program sipil mengirim satelit ke orbit.
Selain Iran, negara lain seperti Rusia dan China juga menjadi ancaman di luar angkasa. Rusia dan China mengalami kemajuan pesat dan menjadi ancaman nyata.
Menteri Pertahanan AS Mark Esper memperingatkan Rusia dan China sedang mengembangkan senjata yang dapat melumpuhkan satelit AS serta berpotensi menyebarkan puing-puing berbahaya di luar angkasa yang dampaknya bisa berpengaruh melumpuhkan sinyal ponsel serta informasi cuaca. Ancaman lain bisa berdampak pada pengoperasian drone, jet tempur, kapal induk, bahkan pemantau senjata nuklir.
“Militer sangat bergantung pada komunikasi satelit, navigasi, dan peringatan rudal global,” kata Ryan Vickers, seorang personel Angkatan Luar Angkasa AS di Al Udeid.
Pasukan AS, lanjut dia, menggunakan koordinat GPS untuk melacak kapal yang melewati jalur strategis di Teluk untuk memastikan mereka tidak lari ke perairan internasional negara lain.