Bukan Cuma Uighur, China Juga 'Penjarakan' dan Siksa Muslim Kazakh

Nathania Riris Michico ยท Kamis, 16 Januari 2020 - 10:42 WIB
Bukan Cuma Uighur, China Juga 'Penjarakan' dan Siksa Muslim Kazakh

Potret dua muslim di Mikaduke, utara Kazakhstan, 21 September 2001, pada malam kunjungan pastoral empat hari Paus Yohanes Paulus II di Kazakhstan. (FOTO: GABRIEL BOUYS / AFP)

BEIJING, iNews.id - Sejak 2017, ribuan etnis Kazakh yang beragama Islam ditahan di kamp 're-edukasi' atau pelatihan di China. Orang-orang yang keluar dari kamp tersebut menyatakan mereka mengalami penyiksaan selama di sana.

Kebayakan dari anggota etnis Kazakh ini tinggal di perbatasan dengan China, dan mereka menjadi pelintas batas selama berabad-abad.

Namun belakangan pemerintah China menangkapi para pelintas batas Kazakh ini dan membawa mereka untuk menjalani re-edukasi di berbagai kamp yang ada di Provinsi Xinjiang.

Para saksi mata yang keluar dari kamp itu menyatakan, di depan 'sekolah' tersebut ada tulisan 'sekolah kejuruan' dalam bahasa China dan Uighur.

Pemerintah China menyatakan, sekolah-sekolah itu adalah sekolah kejuruan yang ditujukan memberi pelatihan, dan para pelajar masuk ke dalamnya secara sukarela.

Namun seorang Muslim Kazakh bernama Orinbeck yang pernah ditahan di sekolah itu selama empat bulan menceritakan pengalamannya.

"Saya harus mempelajari kebijakan-kebijakan pemerintah China, saya harus belajar bahasa dan sejarah China," katanya, seperti dilaporkan BBC, Kamis (16/1/2020).

"Kami juga harus melupakan bahasa Kazakh. Kata mereka, kalau saya tidak belajar lagu-lagu dan aksara China, maka saya tak boleh meninggalkan tempat itu," kata Orinbeck lagi.

Seorang perempuan Kazakh, Gulzira, pernah ditahan di sana selama 15 bulan.

"Itu bukan sekolah. Itu penjara," katanya.

Gulzira juga mengaku bahwa dia diberi suntikan sesudah tinggal di kamp itu selama tiga bulan.

Dia tidak pernah tahu untuk apa suntikan itu.

"Kalau menolak, mereka akan dikirim ke kamp yang lebih keras lagi," katanya.

Penyiksaan juga kerap terjadi di dalam kamp tahanan tersebut.

Tursinbeck mengaku disiksa selama berada di sana. Dia mengaku dibawa ke ruang bawah tanah yang disebut 'zindan' di mana kantungnya diperiksa.

Arloji dan ikat pinggangnya kemudian disita, tanpa dia tahu alasannya.

Dia kemudian dibawa ke ruang bawah tanah, sedalam 20 meter dari permukaan tanah.

"Saya dipukul di bagian telinga," katanya.

"Sehingga saya kehilangan keseimbangan."

Penyintas lain, Orinbeck, juga mengaku disiksa.

"Saya diikuti ke toilet. Kalau saya mencuci tangan dan muka (untuk berwudhu) mereka akan membentak saya: mengapa kamu minum air!" kata Orinbeck.

"Lalu mereka akan memukul saya".

Orinbeck mengaku sering disuruh membuka baju sambil mengangkat kedua tangannya ke udara.

"Lalu mereka akan menyiram saya dengan air. Bahkan saya tak tahu itu air atau apa".

Selama tiga bulan, Orinbeck diperlakukan seperti itu, dia merasa putus asa dan ingin mengakhiri hidupnya.

Kedutaan Besar China di London menyatakan kepada BBC bahwa penyiksaan semacam itu adalah 'desas-desus semata'. Mereka juga mengatakan seluruh 'peserta pelatihan' sudah dilepaskan dari sekolah tersebut.

Menurut pemerintah China, para lulusan sekolah ini memperoleh 'dukungan' untuk mendapat pekerjaan.

Namun orang-orang yang berhasil selamat dari kamp menyatakan bahwa pekerjaan itu adalah 'kerja paksa'.

"Ketika saya dilepaskan, saya harus melapor kepada polisi," kata Turinbeck, salah seorang penyintas.

"Saya diberi topi polisi, pentungan, dan rompi anti peluru. Lalu kami harus berpatroli menjaga lingkungan dari pukul 07.00 hingga 22.00. Selama itu kami tidak diberi makanan atau upah," kata dia, menjelaskan.

Gulzira juga menceritakan soal kerja paksa itu. Dia dipaksa untuk bekerja di pabrik untuk menjahit sarung tangan. Ke manapun dia pergi, harus melapor kepada polisi desa.

"Jika tidak, mereka akan menuduh saya anti-pemerintah. Dengan alasan itu, saya bisa dibawa kembali ke kamp," katanya.

Sekalipun sudah dibebaskan, tetapi hingga saat ini, ratusan Muslim Kazakh belum kembali ke rumah mereka.

Seorang perempuan Kazakh, Gulnur, mengaku suaminya ditahan di kamp itu sejak Oktober 2017.

Gulnur mengatakan suaminya ditahan karena di telepon genggamnya ditemukan aplikasi WhatsApp. Suami Gulnur kini sudah kembali ke rumah, tetapi dia dikenakan tahanan rumah.

Dibantu oleh kelompok hak asasi manusia Atajurt, Muslim Kazakh kini melancarkan kampanye untuk mencari anggota-anggota keluarga mereka yang masih hilang.

Mereka mengedarkan video secara daring untuk membuat dunia sadar apa yang terjadi dengan etnis Kazakh yang tinggal di perbatasan dengan China.

Gulzira merasa bersyukur bisa keluar dari kamp tersebut.

"Mereka memaksa saya untuk meninggalkan identitas saya. Tapi identitas saya tidak berubah. Saya tetap seorang Muslim, seorang Kazakh," katanya.

"Saya bangga menjadi Kazakh. Allah telah menyelamatkan saya."


Editor : Nathania Riris Michico