Investigasi Ungkap Kemenkes Iran Sengaja Sembunyikan Data Infeksi Covid-19

Arif Budiwinarto ยท Senin, 03 Agustus 2020 - 11:41 WIB
Investigasi Ungkap Kemenkes Iran Sengaja Sembunyikan Data Infeksi Covid-19

Seorang pasien yang diduga terinfeksi Covid-19 menjalani perawatan di sebuah RS di Iran (foto: Getty Images)

TEHERAN, iNews.id - Jumlah kematian akibat Covid-19 di Iran diyakini hampir menyentuh 42.000 kasus. Berdasarkan investigasi BBC jumlah tersebut tiga kali lipat lebih besar dari data yang dikeluarkan pemerintah.

Dalam laporan yang dipublikasi pada Senin (3/8/2020), BBC Persia melakukan investigasi pada kasus Covid-19 di Iran diduga ada data yang sengaja disembunyikan oleh otoritas kesehatan.

Dalam temuannya, BBC menulis terdapat hampir 42.000 kasus kematian di Iran sejak Januari hingga 20 Juli lalu. Jumlah tersebut berbeda sangat jauh dari angka kematian yang dirilis Kementerian Kesehatan Iran yakni 14.405.

Sedangkan jumlah kasus infeksi Covid-19 di negara Timur Tengah itu berdasarkan data yang ditemukan BBC berada di angka 451.024, sedangkan jumlah kasus positif Covid-19 yang diumumkan pemerintah sebanyak 278.827.

BBC mengumpulkan data dan rekam medis yang dikirim oleh seorang sumber terpercaya dari sejumlah fasilitas medis. Data-data tersebut termasuk detail dari catatan harian rumah sakit di seluruh Iran, nama pasien, usia, jenis kelamin, gejala dan lama berada di rumah sakit serta kondisi terakhir pasien.

Dari situ dapat diketahui kasus kematian pertama akibat Covid-19 di Iran terjadi pada 22 Januari 2020. Tanggal ini sebulan sebelum pemerintah mengeluarkan pernyataan resmi mengenai korban Covid-19 pertama di negaranya.

Dalam data tersebut memperlihatkan Teheran, ibu kota Iran, mencatat kasus kematian tertinggi di seluruh negeri dengan 8.120 orang meninggal karena Covid-19 atau gejala sejenisnya.

Kota Qom, lokasi awal Covid-19 merebak di Iran, menjadi lokasi yang paling terdampak dengan rata-rata angka kematian 1 per setiap 1.000 orang. Sedangkan terdapat 1.916 korban meninggal yang diketahui bukan warga negara Iran.

Ini menunjukkan jumlah kematian yang tidak proporsional diantara migran dan pengungsi yang sebagian besar dari negara tetangga, Afghanistan.

Seorang dokter yang namanya disamarkan mengatakan kepada BBC bahwa Kementerian Kesehatan Iran berada di bawah tekanan dari badan keamanan dan intelijen dalam negeri Iran. Oleh karena itu, Kemenkes Iran tak punya pilihan selain "membantah" temuan tersebut.

"Awalnya, mereka tidak memiliki peralatan tes (Covid-19) dan saat mereka mendapatkannya, mereka tidak menggunakannya tak cukup luas," kata dokter dengan nama samaran Pouladi.

"Posisi petugas keamanan tidak untuk mengakui keberadaan virus corona di Iran," lanjutnya.

Kenapa Iran Menutupi Data Tersebut?

Editor : Arif Budiwinarto

Halaman : 1 2 Tampilkan Semua