Kisah Pelarian Mantan Bos Nissan Carlos Ghosn dari Jepang, Sembunyi di Tas Musik ke Lebanon

Anton Suhartono ยท Kamis, 02 Januari 2020 - 07:12 WIB
Kisah Pelarian Mantan Bos Nissan Carlos Ghosn dari Jepang, Sembunyi di Tas Musik ke Lebanon

Carlos Ghosn (Foto: AFP)

TOKYO, iNews.id - Mantan bos Nissan-Renault Carlos Ghosn melarikan diri dari proses hukum di Jepang. Dia kabur menuju Lebanon setelah singgah di Turki.

Pria asal Brasil yang pernah mengalami masa kejayaan menyandang status sebagai bos perusahaan otomotif dengan bayaran tertinggi itu menjalani proses hukum untuk kasus seputar keuangan, yakni penggelapan pajak.

Ghosn dilaporkan meninggalkan rumahnya di Jepang dengan bersembunyi di tas alat musik, dalam skenario pelarian yang didalangi oleh istrinya. Pelariannya turut dibantu grup band Gregorian serta sebuah tim beranggotakan mantan pasukan khusus yang menyediakan jasa keamanan swasta.

Pelarian dimulai ketika para musisi tiba di kediaman Ghosn di Tokyo. Ghosn bebas dengan jaminan pada April 2019 setelah sempat ditahan selama 130 hari sambil menunggu persidangan.

Sejak itu dia berada dalam pengawasan ketat otoritas keamanan Jepang selama 24 jam, termasuk pemantauan melalui kamera.

Namun seketat-ketatnya pengawasan, Ghosn masih bisa lolos. Grup musik disebut-sebut memasukkan pria dengan tinggi 1,7 meter itu ke kotak instrumen lalu membawanya ke bandara. Meski demikian, Gregorian membantah keras keterlibatannya dalam pelarian Ghosn.

Di sana, pesawat pribadi sudah menunggu pria 65 tahun itu untuk terbang ke Istanbul, Turki. Dari Istanbul, Ghosn melanjutkan pelarian menggunakan jet pribadi Bombardier Challenger ke Lebanon dan tiba sebelum fajar pada Senin (30/12/2019).

Jalur penerbangan yang terekam oleh situs pelacakan penerbangan, FlightRadar, menunjukkan jet sempat menghilang dari radar pada pukul 04.16 waktu setempat, sesaat mendekati Bandara Internasional Rafic Hariri di Beirut.

Setelah itu tidak jelas di mana keberadaan pria berstatus tiga kewarganegaraan itu, yakni Lebanin, Prancis, dan Brasil.

Sumber kepresidenan Lebanon mengatakan, Ghosn mendarat di Turki sebelum penerbangan pada Senin dini hari ke Lebanon.

Sementara itu pengacara Ghosn, Junichiro Hironaka, tercengang. Hironaka mengatakan, tiga paspor Ghosn masih berada di Jepang.

Namun Kementerian Luar Negeri Lebanon menyatakan pada Selasa (31/12/2019) bahwa Ghosn memasuki negaranya secara legal.

Ghosn tampaknya akan aman selama berada di Lebanon, setidaknya untuk saat ini.

"Tidak ada kesepakatan ekstradisi antara Lebanon dan Jepang," kata seorang sumber di Kementerian Kehakiman Lebanon, dikutip dari AFP.

Meski demikian, seorang ahli hubungan internasional di Lebanon mengatakan, tidak adanya konvensi ekstradisi antarnegara bukan jaminan seseorang tak bisa diusir. Namun dia memberi catatan untuk kasus warga Lebanon.

"Negara-negara tertentu, termasuk Lebanon, tidak mengekstradisi warga negara mereka," ujar pria yang meminta namanya tak disebutkan itu.

Dia mencatat, pengadilan Lebanon bisa saja mengadili Ghosn jika dia melanggar hukum di negara itu. Hanya saja, lewat pintu ini, Ghosn bisa lolos karena Lebanon tidak bisa memutus seseorang yang dituduh melakukan penipuan pajak di negara lain.

Mantan Menteri Kehakiman Lebanon, Ibrahim Najjar, mengatakan, jika Interpol dilibatkan dalam kasus ini, status Ghosn bisa dikomunikasikan kepada negara-negara anggota untuk penangkapan.

"Tapi Interpol tidak bisa menahannya dengan paksa atau memaksakan keputusan apa pun pada Lebanon," tuturnya.


Editor : Anton Suhartono