Minimnya Internet Indonesia untuk Pendidikan saat Pandemi Jadi Gunjingan Media Luar

Ahmad Islamy Jamil ยท Jumat, 12 Juni 2020 - 19:18 WIB
Minimnya Internet Indonesia untuk Pendidikan saat Pandemi Jadi Gunjingan Media Luar

Para murid salah satu SD di Magelang, Jawa Tengah, memberi salam hormat kepada guru mereka, Henrikus Suroto, yang rela mengunjungi rumah mereka untuk memberikan pelajaran di tengah pandemi Covid-19. (Foto: AFP)

MAGELANG, iNews.id – Masyarakat Indonesia telah berulang kali diminta pemerintah agar bersiap-siap menghadapi era Revolusi Industri 4.0. Era peradaban baru tersebut salah satunya ditandai dengan penggunaan internet untuk segala keperluan.

Pertanyaannya, apakah Indonesia sudah sungguh-sungguh siap menghadapi Revolusi Industri 4.0? Seberapa jauh infrastruktur internet yang dimiliki negeri ini mampu mendukung visi itu? Pandemi virus corona (Covid-19) sedikit banyaknya telah mengungkapkan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Media Singapura, The Straits Times, dengan mengutip Kantor Berita Prancis, AFP, memaparkan kondisi terkini layanan internet di Indonesia lewat artikel berjudul With Lack of Internet, Indonesia's Teachers Brave Coronavirus with Door-to-door Teaching. Jika diterjemahkan secara bebas, judul versi Indonesianya mungkin kurang lebih begini: “Dengan Minimnya Internet, Guru-Guru Indonesia Nekat Melawan Virus Corona Dengan Mengajar dari Rumah ke Rumah”.

Artikel itu diawali dengan cerita tentang pengalaman Henrikus Suroto, seorang guru di Magelang Jawa Tengah. Guru itu telah bersumpah untuk terus mendidik murid-muridnya sepenuh hati di tengah pandemi global Covid-19—yang memaksa sekolahnya ditutup sementara waktu. Di Desa Kenalan yang terpencil, Suroto membuktikan janjinya itu.

Dia nekat melewati jalan pegunungan yang terjal untuk mengunjungi perkampungan petani miskin di Jateng, di mana pembelajaran daring tidak mungkin digelar di sana lantaran kurangnya layanan internet. Di kampung itu, internet masih menjadi fasilitas mewah yang hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang tua siswa.

Untuk memenuhi kewajibannya mencerdaskan anak didiknya, Suroto tidak saja mengabaikan risiko kematian atau penyakit serius akibat wabah Covid-19. Dia juga nekat melanggar imbauan pemerintah untuk tidak mengadakan kelas tatap muka untuk mencegah penyebaran penyakit. Karena sekolah ditutup, dia memutuskan untuk mendatangi muridnya satu per satu dan mengajari mereka.

“Tidak ada yang memaksa saya untuk melakukan (mengajar tatap muka) ini. Karena ada sesuatu dari dalam nurani saya yang mengatakan agar saya melakukannya,” kata pria berusia 57 tahun itu kepada AFP, seperti dilansir, Jumat (12/6/2020).

“Saya merasa sedikit bersalah, karena pemerintah telah menyuruh guru-guru untuk mengadakan kelas daring. Tetapi kenyataannya, itu tidak mudah dilakukan di sini. Satu-satunya solusi adalah berada di dekat dengan siswa, dengan pengajaran dari rumah ke rumah,” tuturnya.

Suroto adalah satu dari sejumlah kecil guru yang menghadapi medan berbahaya, cuaca buruk, dan kemungkinan tertular virus corona, demi menjangkau para murid di rumah orang tua mereka. Menurut data yang dihimpun AFP, hampir 70 juta anak-anak dan remaja di Indonesia terkena dampak penutupan sekolah yang dimulai sejak pertengahan Maret lalu.

Sementara, pandemi telah memicu ledakan pembelajaran daring, terutama di negara-negara maju dan kaya. Sayangnya, ada sekitar sepertiga dari total 267 juta penduduk Indonesia tidak memiliki akses ke Internet atau, bahkan, dalam beberapa kasus, belum teraliri listrik.

Suroto dan guru-guru Indonesia lainnya mengatakan, saat mengajar, mereka selalu mengenakan masker. Akan tetapi, ancaman mereka untuk terjangkit virus dan lalu menularkannya kepada siswa, juga selalu ada.

Avan Fathurrahman, seorang guru SD di Pulau Madura, Jawa Timur, mengunjungi hingga 11 murid per hari. Pengalaman yang dia tulis dalam unggahan di laman Facebook itu kini menjadi viral.

Avan mengaku, sebenarnya dia takut jatuh sakit karena wabah corona. “Akan tetapi, ketakutan saya dikalahkan oleh panggilan nurani saya untuk mengajar,” katanya.

“Saya tidak akan tenang tinggal di rumah jika mengetahui murid-murid saya tidak bisa belajar dengan benar,” tuturnya.

Selain imbauan pemerintah kepada guru untuk menyelenggarakan pembelajaran secara daring, program pendidikan juga ditayangkan di saluran TV milik negara, TVRI.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim telah mengakui adanya tantangan dalam penyelenggaraan pembelajaran jarak jauh di sejumlah wilayah Indonesia. Dia bahkan mengaku kaget lantaran masih banyak masyarakat pedesaan di Indonesia yang tidak memiliki akses internet.

“Ada yang bilang tidak punya sinyal televisi. Bahkan ada yang bilang tidak punya listrik. Itu bikin saya kaget luar biasa,” kata Nadiem dalam Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2020 yang disiarkan secara daring lewat kanal YouTube Kemendikbud, bulan lalu.

Editor : Ahmad Islamy Jamil