Pastor Prancis Diadili karena Lakukan Pelecehan Seksual Terhadap Anak Pramuka

Nathania Riris Michico ยท Rabu, 15 Januari 2020 - 09:29 WIB
Pastor Prancis Diadili karena Lakukan Pelecehan Seksual Terhadap Anak Pramuka

Bernard Preynat (74) mengaku melecehkan anak laki-laki pada 1970-an dan 1980-an. (FOTO: ALEX MARTIN / EPA)

PARIS, iNews.id - Pengadilan terhadap Bernard Preynat, bekas pastor yang dituduh melakukan serangan seksual kepada anak-anak pramuka pada 1980-an dan 1990-an, dimulai Selasa (14/1/2020).

Preynat (74) dituduh melakukan pelecehan seksual terhadap lebih dari 80 orang saat dia menjadi pastor dan menghadapi hukuman maksimal 10 tahun penjara.

Dilaporkan BBC, Rabu (15/1/2020), sidang Preynat dijadwalkan pada Senin (13/1/2020) tetapi ditunda karena adanya aksi pemogokan pengacara di Prancis terkait soal skema pensiun. Selama persidangan, 10 orang dijadwalkan akan bersaksi.

Mereka berusia antara tujuh hingga 15 tahun saat pelecehan seksual yang dituduhkan terjadi.

Terkait dengan kasus ini adalah Kardinal Philippe Barbarin, yang dinyatakan bersalah pada Maret tahun lalu karena tidak melaporkan tuduhan terhadap Preynat.

Barbarin merupakan pendeta dengan profil paling terkemuka di Prancis dan juga akan menghadapi pengadilan dengan tuduhan skandal pelecehan seksual terhadap anak-anak.

Proses pengadilan diperkirakan akan berlangsung setidaknya empat hari.

Pengadilan ini ditunda 24 jam atas permintaan pengacara yang ikut serta dalam protes terhadap usulan kebijakan Presiden Emmanuel Macron untuk mengubah sistem pensiun di Prancis.

Apa tuduhan terhadap pastor Preynat?

Dakwaan terhadap Bernard Preynat adalah melakukan pelecehan seksual terhadap anak-anak pramuka antara 1971 hingga 1991, ketika dia menjadi pendeta di kepramukaan di Sainte-Foy-lès-Lyon di wilayah timur Prancis.

Puluhan orang mengaku bahwa Preynat melecehkan mereka ketika mereka kecil.

Sebelumnya, mereka menuduh Preynat berulang kali menyentuh mereka secara tidak pantas dan sesekali mencium mereka di bibir. Preynat mengaku bahwa dia melakukan pelecehan itu selama 20 tahun.

Namun beberapa korban menuduh bahwa otoritas gereja menutup-nutupi tuduhan terhadap Preynat ketika dilaporkan pertama kali, dan membiarkan dia terus berurusan dengan anak-anak.

Dia muncul sejenak di pengadilan di Lyon pada Senin (13/1/2020).

Preynat menyatakan dia sadar akan penderitaan yang disebabkan oleh perbuatannya, dan dia ingin agar pengadilan dilaksanakan sesegera mungkin.

Pada Juli tahun lalu, Preynat dicopot dari jabatannya sebagai pendeta sesudah pengadilan gereja menyatakan dia melakukan tindakan kriminal bersifat seksual terhadap anak-anak berusia di bawah 16 tahun.

Pengacaranya mengatakan, sekalipun kliennya mengaku, ada undang-undang yang menyatakan tuduhan terhadap kliennya sudah kadaluwarsa, dan dia tak boleh diadili karena hal itu.

Namun penegak hukum berpendapat kejahatannya masih bisa diadili dan kasusnya dibuka.

Kejahatan ini ditutupi selama berpuluh tahun?

Kardinal Barbarin, yang merupakan uskup agung Lyon dan pendeta Katolik paling senior di Prancis -sebelum dia mengundurkan diri tahun lalu- dinyatakan bersalah tidak melaporkan kejahatan seksual Preynat kepada pihak berwenang.

Padahal Preynat pernah dikonfrontir berkaitan dengan meningkatnya desas-desus kejahatan Preynat ini pada 2010.

Pada Maret 2019, Barbarin dijatuhi hukuman penjara enam bulan yang ditangguhkan, tetapi dia menyatakan naik banding.

Pengunduran dirinya ditolak oleh Paus Fransiskus berdasarkan asas "praduga tidak bersalah", dan Barbarin mengatakan dia akan menyingkir "sementara" seiring upaya bandingnya.

Barbarin mengaku bahwa dia mengetahui tentang "desas-desus" itu sejak 2010.

Namun dia menyatakan baru tahu mengenai tuduhan itu sesudah percakapan dengan salah seorang korban pada 2014.

Dia kemudian mengabarkan tuduhan itu kepada Vatikan dan mencopot Preynat dari posisinya, tapi tak pernah melapor kepada polisi. Tuduhan ini diketahui umum pada 2015.

Pada sidang Maret lalu, dia menyatakan: "Saya tak melihat apa salah saya. Saya tak pernah berusaha menyembunyikan apalagi menutup-nutupi fakta-fakta mengerikan itu."

Putusan banding untuk Barbarin dijadwalkan pada 30 Januari.

Beberapa pejabat Vatikan lainnya juga dituduh tidak melaporkan kejahatan ini kepada polisi, termasuk Kardinal Luis Ladaria Ferrer, yang tidak akan diadili karena memiliki kekebalan hukum di bawah yurisdiksi Gereja Katolik Roma.

Skandal kejahatan seksual di Prancis ini diangkat ke dalam film By the Grace of God, yang sedianya akan diedarkan pada Februari tahun lalu, tetapi ditunda karena adanya protes dari pengacara Preynat dengan alasan film itu akan mempengaruhi hasil persidangan.


Editor : Nathania Riris Michico