Peta Lawas yang Menangkan Filipina dalam Sengketa dengan China Terjual Rp11 M

Anton Suhartono ยท Selasa, 17 September 2019 - 05:45 WIB
Peta Lawas yang Menangkan Filipina dalam Sengketa dengan China Terjual Rp11 M

Peta lawas dari abad ke-18 menjadi senjata Filipina dalam memenangkan sengketa laut dengan China pada 2013 (Foto: Perpustakaan Kongres AS)

MANILA, iNews.id - Salinan peta lawas Filipina di tahun 1700-an yang menjadi penguat negara itu memenangkan sengketa wilayah dengan China terjual dalam lelang oleh Leon Gallery seharga 40 juta peso atau sekitar Rp11 miliar.

Angka tersebut lebih dari tiga kali lipat dengan salinan peta lainnya yang pernah terjual dalam lelang yang diadakan Sotheby's di London, Inggris, pada 2014.

Saat itu peta terjual kepada Mel Velarde, CEO perusahaan telekomunikasi Filipina, NOW, dengan harga 12 juta peso.

Dalam lelang terbaru ini sempat terjadi penawaran sengit antara dua kolektor selama 4 menit, sebelum muncul pihak ketiga, Lori Juvida, yang akhirnya memenangkan lelang dengan mengajukan penawaran 40 juta peso.

Dilaporkan The Straits Times, Senin (16/9/2019), perempuan pemilik galeri seni itu mengatakan dia membeli peta tersebut untuk seorang teman yang tak disebutkan identitasnya, namun diketahui keturunan China.

Direktur Leon Gallery Jaime Ponce de Leon menyebut hal yang membuat peta tersebut bernilai adalah sisi kelangkaan dan sejarahnya.

"Sebagai dokumen sejarah, itu sangat penting," kata Jaime.

(Foto: Perpustakaan Kongres AS)

Dia menambahkan, peta tersebut menjadi penguat Filipina untuk memenangkan sengketa wilayah dengan China di Pengadilan Arbitrase di Den Haag, Belanda, pada 2013. China mengklaim lebih dari dua pertiga Laut China Selatan miliknya.

Peta itu pertama kali diterbitkan pada 1734 oleh kartografer Jesuit Pedro Murillo Velarde. Dia menggambar Scarborough Shoal, dulu disebut Panacot, sebagai bagian dari wilayah Filipina. Shoal terletak 358 kilometer di barat pulau utama Luzon. Namun China mengendalikan Scarborough sejak 2012.

Pengadilan Arbitrase Den Haag berpihak pada Filipina dan membatalkan klaim China atas Laut Cina Selatan pada 2016. Pengadilan menjunjung tinggi hak Filipina atas wilayah seluas lebih dari 200 mil laut zona ekonomi eksklusif, termasuk di dalamnya Scarborough. Namun China tak menerima keputusan itu.

Presiden Rodrigo Duterte mengangkat kasus ini saat bertemu dengan Presiden Xi Jinping saat berkunjung ke China bulan lalu. Namun Xi menegaskan tak akan mengubah sikapnya soal klaim kepemilikan wilayah itu.

Saat ini jumlah salinan peta tersebut tak lebih dari 12 buah. Tiga di antaranya masing-masing berada di perpustakaan nasional Spanyol, Prancis, dan Kongres AS. Sementara tiga lainnya menjadi koleksi pribadi di Filipina.


Editor : Anton Suhartono