Posisi Indonesia terhadap Palestina Tak Akan Berubah Hanya Gara-Gara UEA dan Bahrain

Ahmad Islamy Jamil ยท Kamis, 17 September 2020 - 18:45 WIB
Posisi Indonesia terhadap Palestina Tak Akan Berubah Hanya Gara-Gara UEA dan Bahrain

Ilustrasi hubungan Indonesia dan Palestina. (Foto: Setkab/Kemlu).

JAKARTA, iNews.id – Keputusan Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain yang menyepakati normalisasi hubungan dengan Israel tidak akan mengubah posisi Indonesia tentang Palestina. Kementerian Luar Negeri (Kemlu) menegaskan, Indonesia sampai hari ini tetap mendukung kemerdekaan Bangsa Palestina.

“Kami memahami intensi (niat) UEA dan Bahrain untuk menyediakan ruang bagi pihak terkait untuk bernegosiasi dan mengubah pendekatan guna penyelesaian isu Palestina melalui kesepakatan ini,” kata Juru Bicara Kemlu, Teuku Faizasyah, dalam konferensi pers virtual, Kamis (17/9/2020).

“Namun, efektivitas atas kesepakatan tersebut sangat bergantung pada komitmen Israel untuk menghormatinya,” ucap Faizasyah menambahkan.

Bagi Indonesia, penyelesaian isu Palestina perlu menghormati Resolusi Dewan Keamanan PBB serta parameter yang disepakati secara internasional, termasuk Solusi Dua Negara. Semua negara, kata dia, justru harus memastikan agar seluruh inisiatif untuk perdamaian tidak menggagalkan keputusan yang telah dibuat melalui Arab Peace Initiative dan resolusi Organisasi Kerja Sama Islam yang terkait.

“Oleh karena itu, sudah waktunya untuk mempertimbangkan agar inisiatif dan kesepakatan itu diarahkan kepada upaya untuk memulai kembali proses multilateral yang kredibel. Hal ini akan memungkinkan equal footing (kesempatan yang sama) bagi seluruh pihak serta didasarkan pada parameter internasional yang disepakati,” tuturnya.

Kesepakatan UEA dan Bahrain untuk menjalin hubungan formal dengan Israel ditandatangani di Gedung Putih, Amerika Serikat, Selasa (15/9/2020) waktu setempat. Kesepakatan itu menjadikan UEA dan Bahrain sebagai negara Arab ketiga dan keempat yang mengambil langkah normalisasi hubungan sejak Israel menandatangani perjanjian serupa dengan Mesir pada 1979 dan Yordania pada 1994.

Sebagai tanda bahwa pertikaian kawasan pasti berlanjut ketika konflik Israel-Palestina tetap tak terpecahkan, para milisi Palestina menembakkan roket-roket dari Gaza ke arah Israel selama upacara penandatanganan.

Sementara, para pejabat UEA dan Bahrain berusaha meyakinkan kembali Palestina bahwa keduanya tidak sedang meninggalkan rakyat Palestina dan perjuangan mereka mendirikan negara di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Namun, para pemimpin Palestina tetap mengecam kesepakatan dua negara Arab itu—yang dianggap sebagai pengkhianatan terhadap perjuangan rakyat Palestina.

Indonesia tidak menjalin hubungan diplomatik dengan Israel selama Palestina masih dijajah Israel, dan belum merdeka serta berdaulat penuh.

Editor : Ahmad Islamy Jamil