Profil Sheikh Hasina, PM Bangladesh yang Lengser Keprabon: dari Sosok Prodemokrasi jadi Diktator Bengis
Komentarnya langsung memicu protes. Para mahasiswa merasa pernyataannya secara tidak adil mengabaikan upaya mereka untuk melawan sistem kuota yang diskrimintatif dalam memberikan kesempatan kerja yang setara di bidang pemerintahan. Sistem kuota yang diterapkan Hasina menyediakan sekitar 30 persen posisi untuk keturunan para pejuang kemerdekaan Bangladesh pada gerakan pembebasan tahun 1971.
Sejak kata "Razakar" itu terlontar dari mulut Hasina, para mahasiswa pun mulai berunjuk rasa dalam hitungan jam saja. Mereka berbaris melalui kampus Universitas Dhaka, meneriakkan slogan provokatif: "Siapakah Kita? Kita ini Razakar!" seru mereka.
Tanggapan Hasina pun sangat keras. Dia melibatkan sayap mahasiswa partainya, Liga Chhatra Bangladesh (BCL), dan polisi untuk meredakan aksi protes massal kaum pelajar itu. Hal tersebut menyebabkan pecahnya kekerasan yang memakan korban jiwa pada 16 Juli. Insiden tersebut menyebabkan enam orang tewas.
Selama empat hari berikutnya, lebih dari 200 orang tewas, dan sebagian besar adalah kalangan pelajar dan warga biasa. Sementara polisi dan kader bersenjata BCL melepaskan tembakan peluru tajam.
Alih-alih mengutuk kekerasan tersebut, Hasina justru berfokus pada kerusakan pada properti pemerintah, seperti rel kereta bawah tanah dan gedung-gedung televisi milik negara.
Hasina lahir pada 1947 di wilayah yang dulunya disebut Pakistan Timur (Bangladesh hari ini). Perempuan itu aktif berpolitik sejak usia muda. Ayahnya, Sheikh Mujibur Rahman, yang dikenal sebagai "Bapak Bangsa", memimpin Bangladesh menuju kemerdekaan dari Pakistan pada 1971 dan menjadi presiden pertama negara itu.