Ragukan Data Kasus Baru Covid-19 di Beijing, AS: Kredibilitas China Sudah Hilang

Ahmad Islamy Jamil ยท Jumat, 19 Juni 2020 - 08:52 WIB
Ragukan Data Kasus Baru Covid-19 di Beijing, AS: Kredibilitas China Sudah Hilang

Sejumlah polisi China berjaga di depan gerbang masuk Pasar Induk Xinfadi di Kota Beijing. Pasar itu ditutup menyusul temuan klaster baru wabah virus corona di sana. (Foto: AFP)

HONOLULU, iNews.id – Amerika Serikat mempertanyakan kredibilitas China dalam melaporkan kasus-kasus baru infeksi virus corona (Covid-19) di Kota Beijing. Elite politik di Washington DC pun menyerukan agar para pengamat netral turun tangan untuk menilai sejauh mana perkembangan wabah tersebut di Beijing.

China telah mengarantina (lockdown) sejumlah kawasan permukiman di ibu kotanya untuk mencegah gelombang kedua wabah Covid-19. Pemerintah negeri tirai bambu sejauh ini melaporkan 158 kasus infeksi virus corona sejak klaster baru terdeteksi di Beijing pada pekan lalu.

Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, telah mendesak adanya transparansi yang lebih besar dalam pelaporan wabah Covid-19 di Beijing. Hal itu dia ungkpakan saat menggelar pertemuan tertutup dengan pejabat senior China, Yang Jiechi, di Hawaii, Rabu (17/6/2020).

“Saya berharap angka-angka mereka dan pelaporan mereka lebih akurat daripada yang kami lihat dalam kasus di Wuhan dan tempat-tempat lain di RRC. Tetapi (kasus yang di Beijing) itu tetap harus ditinjau lagi,” kata diplomat top AS untuk Asia Timur, David Stilwell, yang menemani Pompeo dalam pertemuan itu, seperti dilansir AFP, Jumat (19/6/2020).

“Sebaiknya ada orang-orang (yang independen) di lapangan untuk mendapatkan konfirmasi (terkait data wabah Covid-19) di Beijing,” tuturnya kepada wartawan.

Stilwell lantas merujuk berbagai laporan dalam jurnal ilmiah yang memberikan perkiraan bahwa jumlah kasus Covid-19 di Kota Wuhan sebenarnya jauh lebih tinggi daripada data yang dirilis Pemerintah China. Seperti diketahui, Wuhan adalah tempat pertama kali wabah corona terdeteksi pada akhir tahun lalu, kemudian menyebar dan menjadi pandemi global seperti sekarang.

“Jadi, begitu kredibilitas Anda (China) hilang, Anda harus menemukan cara untuk membangun itu kembali. Saya pikir satu-satunya cara untuk melakukan itu adalah dengan membawa pengamat netral untuk membantu memahami secara persis apa yang terjadi di sana (Beijing),” ujar Stilwell.

Laporan surat kabar yang dikelola Pemerintah China menyebutkan, kemunculan klaster baru virus corona di Beijing ditemukan di papan potong atau talenan yang digunakan untuk memotong ikan salmon impor di Pasar Xinfadi. Menyusul laporan itu, sejumlah supermarket besar di kota itu pun langsung menyingkirkan ikan salmon dari rak-rak mereka pada Sabtu (13/6/2020) lalu.

Pemerintah China juga telah menyetop impor ikan salmon dari negara-negara di Benua Eropa dan Amerika.

Editor : Ahmad Islamy Jamil