Respons Putusan Pengadilan Internasional, Myanmar Klaim Sudah Lindungi Muslim Rohingya

Anton Suhartono ยท Jumat, 24 Januari 2020 - 19:39:00 WIB
Respons Putusan Pengadilan Internasional, Myanmar Klaim Sudah Lindungi Muslim Rohingya
Ratusan etnis Rohingya ditangkap saat akan meninggalkan Rakhine melalui laut (Foto: AFP)

YANGON, iNews.id - Myanmar merespons putusan Pengadilan Internasional atau International Court of Justice (ICJ) Den Haag, Belanda, soal tuduhan genosida terhadap muslim Rohingya.

Pengadilan memerintahkan Myanmar melindungi muslim Rohingya dari kekejaman lebih lanjut dan menjaga barang bukti dugaan kekerasan. Gambia, negara Afrika Barat berpenduduk mayoritas muslim, menggugat Myanmar tahun lalu atas tuduhan pelanggaran Konvensi Genosida Tahun 1948.

Baca Juga: Pengadilan Internasional Perintahkan Myanmar Cegah Genosida Terhadap Muslim Rohingya

Juru bicara partai berkuasa Myanmar, Liga Nasional untuk Demokrasi, Myo Nyunt, menegaskan tak ada genosida terhadap etnis Rohingya.

Dia mengklaim bahwa pemerintah sudah melakukan lebih untuk melindungi muslim Rohingya di Rakhine.

"Pemerintah sudah melakukan sebagian besar perintah itu," kata Myo, kepada Reuters, Jumat (24/1/2020), tanpa memberikan rincian.

"Satu hal lagi yang perlu kita lakukan adalah menyerahkan laporan," katanya lagi, merujuk pada salah satu dari beberapa perintah pengadilan yang mengharuskan Myanmar menulis ringkasan kemajuan secara rutin.

Soal perintah menghentikan kekerasan oleh Pengadilan Internasional, Myo mengakui pemerintahan sipil di bawah Aung San Suu Kyi tidak bisa mengendalikan pasukan di lapangan.

"Dalam kondisi politik saat ini, kami mengalami kesulitan menyelesaikan beberapa masalah, seperti (perintah) bahwa pemerintah harus memastikan militer atau pemberontak bersenjata tidak melakukan genosida atau berupaya melakukan genosida terhadap Rohingya atau Bengali," ujarnya.

Baca Juga: Aung San Suu Kyi Tepis Muslim Rohingya Dibantai, tapi Akui Tentara Myanmar di Luar Batas

Lebih dari 730.000 Rohingya melarikan diri dari Negara Bagian Rakhine ke Bangladesh pada 2017 untuk menghindari kekerasan militer. PBB menyebut muslim Rohingya dibantai dengan tujuan genosida.

Sekitar 600.000 etnis Rohingya saat ini bertahan di Myanmar, terkurung dalam kondisi seperti apartheid yakni di kamp-kamp dan desa-desa. Mereka tidak dapat mengakses layanan kesehatan dan pendidikan secara bebas.

Mereka dicemooh sebagai 'orang Bengali' merujuk pada imigran ilegal dari Bangladesh.

Editor : Anton Suhartono