Tak Lagi Percaya Trump, Iran Tolak Pembicaraan Nuklir Baru dengan AS

Nathania Riris Michico ยท Jumat, 23 November 2018 - 11:40:00 WIB
Tak Lagi Percaya Trump, Iran Tolak Pembicaraan Nuklir Baru dengan AS
Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif. (Foto: AFP)

ROMA, iNews.id - Iran tidak melihat kemunginan adanya pembicaraan nuklir baru dengan Amerika Serikat (AS), selama belum ada jaminan bahwa kesepakatan itu tak akan dilanggar. Hal itu ditegaskan Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif.

Presiden AS Donald Trump menarik diri dari Rencana Aksi Bersama Komprehensif 2015 (JCPOA) pada Mei lalu, yang mencap kesepakatan untuk membatasi kerja nuklir Iran yangt dianggap sebagai "bencana".

Iran sendiri terus berpegang pada ketentuan kesepakatan, dan negara-negara Eropa juga terus mendukungnya dan tetap terlibat dengan Iran.

Namun Zarif mengatakan bahwa tanpa jaminan, Trump dan AS tidak dapat dipercaya untuk pembicaraan lebih lanjut.

"Jika kita membuat kesepakatan dengan Amerika Serikat, apa jaminan bahwa perjanjian akan bertahan setelah dilaksanakan? Anda ingat Kanada?" katanya, merujuk pada penarikan diri Trump atas tanda tangannya di pernyataan penutupan KTT G7 pada Juni, setelah pesawatnya meninggalkan Kanada yang menjadi tuan rumah.

"Bagaimana kita bisa yakin bahwa tanda tangan akan tetap ada di atas kertas?" kata Zarif, dalam konferensi Dialog MED di Roma, Italia, seperti dilaporkan France24, Jumat (23/11/2018).

Pemberian sanksi baru AS terhadap Iran, yang mulai berlaku pada 5 November, menimbulkan kekhawatiran tentang apakah kesepakatan itu dapat bertahan.

Iran menyatakan, masa depan JCPOA akan dipertanyakan jika mereka tak lagi menerima manfaat ekonomi dari kesepakatan itu.

Kesepakatan itu mempertimbangkan pencabutan sanksi terhadap Iran sebagai imbalan karena menerima inspeksi IAEA serta membatasi kegiatan nuklir.

"Kami menghabiskan dua setengah tahun, ini bukan dokumen dua halaman, ini bukan gambaran peluang. Ini adalah dokumen 150 halaman," kata Zarif tentang kesepakatan itu.

Dia menunjukkan bahwa keberatan Trump didasarkan pada kebenciannya terhadap mantan presiden Barack Obama.

"Mengapa kita harus melanjutkan pembicaraan lain hanya karena seseorang tidak menyukainya, hanya karena seseorang membenci pendahulunya? Itu bukan alasan Anda terlibat dalam diplomasi. Diplomasi adalah permainan yang serius dan kami siap untuk pertandingan yang serius," tegas Zarif.

Lima negara lain yang turut dalam JCPOA -Inggris, China, Prancis, Jerman, dan Rusia- mendukung upaya Uni Eropa untuk mengatur sistem pembayaran khusus dalam upaya untuk melanjutkan perdagangan dan hubungan bisnis dengan Iran.

Namun, beberapa perusahaan Eropa menarik diri dari Iran. Awal bulan ini, pejabat senior Uni Eropa mengakui bahwa mekanisme itu terbukti sulit untuk dibentuk.

Editor : Nathania Riris Michico

Bagikan Artikel:







Lokasi Tidak Terdeteksi

Aktifkan untuk mendapatkan berita di sekitar Anda