Wapres AS Pence ke Suu Kyi: Penganiayaan Rohingya Tak Bisa Dimaafkan

Nathania Riris Michico ยท Rabu, 14 November 2018 - 15:19 WIB
Wapres AS Pence ke Suu Kyi: Penganiayaan Rohingya Tak Bisa Dimaafkan

Wakil Presiden AS Mike Pence pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi. (Foto: AFP)

SINGAPURA, iNews.id - Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Mike Pence melayangkan kritik terhadap militer Myanmar atas penganiayaan Muslim Rohingya. Kritik itu disampaikan Pence dalam pertemuannya dengan pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi.

Dalam kesempatan itu, Pence menyampaikan bahwa dia ingin mendengar mereka yang bertanggung jawab atas kekerasan itu akan dimintai pertanggungjawabannya.

"Kekerasan dan penganiayaan oleh militer dan warga yang mengakibatkan pelarian 700.000 warga Rohingya ke Bangladesh tak bisa dimaafkan," katanya, kepada Suu Kyi, dalam pertemuan singkat sebelum melakukan pembicaraan pribadi di sela-sela pertemuan KTT ASEAN di Singapura, seperti dilaporkan Reuters, Rabu (14/11/2018).

"Saya ingin sekali mendengar kemajuan bahwa Anda meminta pertanggungjawaban atas kekerasan yang membuat ratusan ribu orang terlantar dan menciptakan penderitaan seperti itu, termasuk kehilangan nyawa," tambahnya.

Baca juga: Mahathir Kecam Keras Aung San Suu Kyi dalam Tangani Krisis Rohingya

Pence mengatakan, AS juga ingin mendengar soal kemajuan terkait kemungkinan warga Rohingya kembali secara sukarela ke Negara Bagian Rakhine di Myanmar barat dari kamp pengungsian di Bangladesh selatan.

Pence menyebut, AS ingin melihat kebebasan pers yang demokratis di Myanmar. Selain itu, dia menuturkan pemenjaraan dua jurnalis tahun lalu "sangat mengganggu" bagi AS.

Pence tidak menyebutkan nama Wa Lone dan Kyaw Soe Oo, dua wartawan Reuters yang ditangkap di Yangon pada Desember 2017. Mereka dinyatakan bersalah pada September melanggar Undang-Undang Rahasia Resmi dan dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara.

"Di Amerika, kami percaya pada institusi demokrasi dan cita-cita kami, termasuk pers yang bebas dan independen," katanya.

Menanggapi Pence, Suu Kyi pun angkat bicara.

"Tentu saja orang-orang memiliki sudut pandang yang berbeda tetapi intinya adalah bahwa Anda harus bertukar pandangan ini dan mencoba untuk saling memahami dengan lebih baik."

Baca juga: Jokowi Ajak Negara ASEAN Bantu Myanmar Atasi Krisis Rohingya

"Dengan cara kami dapat mengatakan bahwa kami memahami negara kami lebih baik daripada negara lain mana pun dan saya yakin Anda akan mengatakan hal yang sama dengan Anda, bahwa Anda memahami negara Anda lebih baik daripada orang lain," tambah Suu Kyi.

AS menuduh militer Myanamr melakukan pembersihan etnis terhadap Rohingya, kelompok minoritas Muslim yang secara luas dicerca di Myanmar yang mayoritas beragama Budha.

Penyidik yang diberi mandat oleh PBB menuduh militer Myanmar melakukan kampanye pembunuhan, pemerkosaan, dan pembakaran dengan niat genosida.

Namun, Myanmar menegaskan operasinya di Rakhine merupakan tanggapan yang sah atas serangan terhadap pasukan keamanan oleh gerilyawan Rohingya pada Agustus tahun lalu.

Amnesty International pekan ini menarik penghargaan hak asasi manusia yang paling bergengsi terhadap Suu Kyi. Amnesty International menuduh Suu Kyi mengabadikan pelanggaran hak asasi karena tak mengambil sikap apa pun terkait kekerasan Rohingya.

Setelah dipuji sebagai pemenang dalam perjuangan demokrasi, peraih Hadiah Nobel Perdamaian 1991 itu kehilangan serangkaian penghargaan internasionalnya yang dicabut sebagai sikap bungkamnya terhadap eksodusnya etnis Rohingya.


Editor : Nathania Riris Michico