Rekonstruksi Kasus John Kei, 4 Fakta Baru Terungkap

Muhamad Rizky ยท Selasa, 07 Juli 2020 - 09:49 WIB
Rekonstruksi Kasus John Kei, 4 Fakta Baru Terungkap

Tersangka kasus pembunuhan berencana, perusakan dan kepemilikan senjata tajam John Kei. (Foto: iNews).

JAKARTA, iNews.id - Polda Metro Jaya telah merampungkan rekonstruksi kasus John Kei dan anak buahnya di lima lokasi pada Senin, 6 Juli 2020. Rekonstruksi yang memeragakan 67 adegan itu mengungkap fakta baru.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus mengatakan, dari 37 tersangka dihadirkan dalam reka adegan terungkap beberapa fakta baru yang merupakan hasil pengembangan. Prarekonstruksi kasus John Kei pada 24 Juni menampilkan 43 adegan, sedangkan rekonstruksi pada Senin kemarin menampilkan 67 adegan.

"Jika kami bandingkan dengan pra-rekonstruksi, ada beberapa penambahan. Ada temuan baru dan pengembangan," katanya di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Senin (6/7/2020).

Wakil Direktur Kriminal Umum Polda Metro Jaya, AKBP Jean Calvijn Simanjuntak mengatakan rekonstruksi ini dilakukan di lima lokasi. "Tiga lokasi digunakan para aktor intelektual dan para tersangka melakukan pembicaraan, pemufakatan, persiapan perencanaan, dan dua lokasi lainnya sebagai lokasi eksekusi di Kosambi dan Perumahan Green Lake City," ujarnya.

Dalam rekonstruksi terungkap 4 fakta baru terkait kasus dugaan penganiayaan yang menewaskan Yustus Corwing Rahakbau dan perusakan di rumah Nus Kei, Tangerang, Banten. Berikut 4 fakta baru tersebut.

1. Perintah John Kei untuk Culik Nus Kei

Perintah itu terungkap saat John Kei menghubungi anak buahnya yakni tersangka Daniel Farfar untuk mengumpulkan pasukan di PT Adyawinsa Telecommunication Electrical (ATE) Kelapa Gading, Jakarta Utara pada 14 Juni 2020 pukul 16.30 WIB.

Tersangka Daniel kemudian mengumpulkan beberapa rekannya yang merupakan anak buah John Kei. Setelah pasukan berkumpul, John Kei datang ke PT ATE untuk memberikan pengarahan yakni meminta anak buahnya untuk mendatangi rumah Nus Kei di Perumahan Green Lake City, Cipondoh Tangerang.

"Adegan kedua tersangka menjawab siap kaka saya bisa. Dan saat pertemuan di situ disepakati hari Rabu, 17 Juni akan mendatangi rumah Nus Kei di Green Lake City," ujar salah seorang penyidik di lokasi rekonstruksi.

Tersangka kasus pembunuhan berencana, perusakan dan kepemilikan senjata tajam John Kei. (Foto: iNews).
Tersangka kasus pembunuhan berencana, perusakan dan kepemilikan senjata tajam John Kei. (Foto: iNews).

Adegan selanjutnya, John Kei meminta Daniel agar membawa Nus Kei kepada dirinya. Hal itu disanggupi tersangka Daniel. "Tersangka John Kei mengatakan ke Daniel kamu bisa ambil Nus Kei untuk ketemu dengan bu. Bu artinya kaka. Kemudian Daniel menjawab siap bu (kaka) saya bisa," katanya.

2. Uang Operasional Rp10 Juta

Fakta baru lainnya yakni mengenai uang operasional Rp10 juta. Fakta baru itu terungkap saat rekonstruksi di rumah John Kei di Perumahan Tytyan Indah, Kota Bekasi, Senin sore.

Dalam adegan rekonstruksi yang diperankan langsung John Kei, terungkap dia memberikan uang sebesar Rp10 juta pecahan Rp50 ribu kepada tersangka Daniel Farfar. "Adegan ke-11 tersangka John Kei memberikan uang sebesar Rp10 juta ke tersangka Daniel," kata salah satu penyidik yang membacakan urutan adegan rekonstruksi.

Uang tersebut kemudian diterima tersangka Daniel dan rencananya digunakan untuk biaya transportasi anak buah John Kei melaksanakan perintah menculik Nus Kei.

3. Anak Buah John Kei Berbagi Peran dan Senjata

Setelah mendapat uang operasional Rp10 juta dari John Kei, Daniel Farfar menyuruh seorang anak buahnya bernama Franklein Resmol untuk mengajak 34 anak buah lainnya. Franklin juga membelanjakan Rp10 juta itu untuk membeli pipa yang diubah menjadi tombak.

Puluhan anak buah John Kei berkumpul di Arcici Sport Center, Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Saat itu para anak buah John Kei mulai membagikan senjata yang digunakan untuk menyerang.

"Di Arcici ini akan dilaksanakan tugas akhir, (pembagian) peran, distribusi mobil dan senjata tajam dan lainnya," kata Wakil Direktur Reskrimum Polda Metro Jaya AKBP Jean Calvijn Simanjuntak kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (6/7/2020).

Rekonstruksi kasus pembunuhan berencana, perusakan dan kepemilikan senjata tajam John Kei dan anak buahnya, Senin (6/7/2020). (Foto: iNews).
Rekonstruksi kasus pembunuhan berencana, perusakan dan kepemilikan senjata tajam John Kei dan anak buahnya, Senin (6/7/2020). (Foto: iNews).

4. Peran Sentral Dua Anak Buah Selain John Kei

Dari rekonstruksi itu juga terungkap sosok sentral selain John Kei yakni dua anak buahnya yang bernama Daniel Farfar, dan Franklein Resmol. Keduanya merupakan tokoh yang sangat aktif dalam kasus tersebut.

Mereka diduga kuat berperan penting dalam perencanaan hingga teknis penyerangan di lapangan. "Jadi tiga pelaku yang sangat berperan aktif dalam hal merencanakan dan eksekusinya ialah tiga, pertama JK (John Kei), kedua DF (Daniel Farfar) dan ketiga FR (Franklin Resmol)," ujar Calvijn.

Peran ketiga aktor intelektual dalam rangkaian kasus John Kei terkuak dalam rekonstruksi yang digelar di kediaman sekaligus markas John Kei di Bekasi. "Fakta menarik di rumah JK ini, ternyata ada beberapa adegan yang betul-betul dipimpin langsung oleh tiga pelaku intelektual ini," ucapnya.

Peran tiga orang tersebut, yakni John Kei mengadakan pertemuan dengan Daniel Farfar pada 14 Juni 2020 di Kelapa Gading, Jakarta Utara, untuk menyusun rencana menculik Nus Kei. Kemudian John juga diketahui menyerahkan uang Rp10 juta kepada Daniel untuk membeli senjata tajam dan mengumpulkan massa.

Daniel Farfar diketahui memerintahkan anak buah John lainnya bernama Franklin Resmol untuk mengumpulkan massa hingga terkumpul 34 orang. Franklin juga berperan membeli pipa besi yang diubah menjadi tombak.

Dalam rangkaian kasus tersebut, Polda Metro Jaya telah menetapkan 39 sebagai tersangka dan 8 orang lainnya masih dalam pengejaran petugas.

Akibat perbuatannya, John Kei dan anak buahnya dijerat pasal berlapis. Di antaranya Pasal 88 KUHP tentang permufakatan jahat dan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana.

Pasal 351 KUHP tentang penganiayaan, Pasal 170 KUHP tentang perusakan dan Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 dengan ancaman hukuman penjara 20 tahun dan atau pidana mati.

Editor : Djibril Muhammad