Awas, Kampoeng Kurma Masuk Daftar Investasi Bodong OJK

Ilma De Sabrini · Senin, 11 November 2019 - 19:00 WIB
Awas, Kampoeng Kurma Masuk Daftar Investasi Bodong OJK

Investasi yang dijalankan PT Kampoeng Kurma masuk daftar investasi ilegal oleh Satuan Tugas Waspada Investasi. (Foto: ilustrasi/ist).

JAKARTA, iNews.id – Kasus dugaan investasi bodong kembali mencuat. Kali ini bermodus penjualan kavling tanah dengan bonus pohon kurma yang diklaim mendatangkan keuntungan berlipat.

Investasi itu dijalankan PT Kampoeng Kurma. Perusahaan ini menjalankan usahanya di sejumlah kota. Namun, investasi di perusahaan ini diduga praktik penipuan dan penggelapan.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan Kampoeng Kurma telah masuk daftar kegiatan usaha ilegal yang berpotensi merugikan masyarakat. Daftar kegiatan usaha ilegal ini diterbitkan pada April 2019.

”Satgas Waspada Investasi telah menghentikan kegiatan tersebut pada bulan April 2019. Ada 73 entitas usaha yang dinyatakan ilegal pada bulan tersebut,” kata Kepala Satgas Waspada Investasi Tongam L Tobing kepada iNews.id, Senin (11/11/2019).

Tongam mengimbau kepada masyarakat untuk berhati-hati. Bila dirugikan, agar masyarakat segera melapor kepada pihak berwajib. ”Kami sudah sampaikan ke Bareskrim Polri tentang informasi daftar investasi tidak berizin ini,” ujarnya.

Untuk diketahui, Satgas Waspada Investasi menerbitkan 73 entitas yang diduga melakukan kegiatan penawaran investasi tanpa izin pada April 2019. Sebanyak 73 perusahaan investasi ilegal yang telah dihentikan itu terdiri dari beberapa jenis.

Perinciannya, 64 trading forex tanpa izin, 5 investasi uang tanpa izin, 2 multilevel marketing tanpa izin, 1 investasi perkebunan, dan 1 investasi cryptocurrency. ”Kampoeng Kurma merupakan investasi perkebunan, dalam daftar itu berada di nomor 72,” kata Tongam.

Penelusuran iNews.id, Kampoeng Kurma menawarkan investasi yang salah satu produknya disebut Prosyar, yakni investasi kavling tanah produktif syariah. Mereka mengeklaim investasi ini bebas riba.

Kavling tanah tersebut ada yang ditawarkan hanya untuk penanaman pohon kurma, ada pula yang disertai dengan rumah (perumahan). Selain itu, ada pula investasi kavling yang akan dijadikan kolam lele dengan 10.000 bibit.

Khusus pohon kurma, mereka menyebut penanaman akan dilakukan dengan sistem good agricultural practices (GAP), yakni model penanamannya sesuai teknologi kekinian yang dianjurkan oleh para ahli pertanian.

Salah satu korban dari investasi ini yaitu, Irvan Nasrun. Dia menuturkan, Kampoeng Kurma menjual tanah kavling seluas 400-500 meter persegi di berbagai daerah mulai Cirebon, Jonggol, hingga Cipanas. Pada tanah itu mereka menjanjikan akan ditanami lima pohon kurma. PT Kampoeng Kurma menawarkan program bagi hasil secara syariah.

"Jadi dia menjual kavling dengan prinsip syariah. Pada tiap kavling akan ditanami pohon kurma. Nanti selama 5 tahun mereka rawat, setelah itu bagi hasil," kata Irvan.

Untuk meyakinkan para calon pembeli kavling atau investor ini, Kampoeng Kurma bahkan menggandeng ulama terkenal. Mereka juga selalu membawa embel-embel syariah dalam investasi mereka. Inilah yang membuat calon investor tertarik.

Irvan mengaku membeli dua kavling di Cirebon, satu kavling daerah Poleang, dan satu kavling di Cipanas. Seluruh investasi itu bernilai Rp417 juta. Namun sampai sekarang, akta jual beli (AJB) tanah itu belum juga keluar. Begitu pula pohon kurma yang dijanjikan juga tidak jelas.

Editor : Zen Teguh