Buru Komunis di Rimba Kalimantan, Hendropriyono Lolos dari Maut meski Dikepung Musuh
Di Kemudian hari Hendropriyono menayakan kepada Sintong mengapa sebagai komandan tidak mau mengirim helikopter. Sebagai anak buah, Hendropriyono tidak mungkin marah kepada Sintong sebagai atasannya.
Tetapi dia merasa sakit hati. Sebaliknya, Sintong yakin Hendropriyono dapat mengatasi keadaan dan keluar dari kepungan.
Kesimpulan itu setelah Sintong mengolah situasi berdasarkan pada laporan Hendropriyono dan membaca peta. Sintong menyadari situasi sangat kritis, tetapi kalau Sintong minta helikopter, berapa lama waktunya? Tidak dapat dihitung.
“Keberadaan helikopter itu di Pontianak, kapan akan sampai? Pada waktu helikopter datang, mungkin kalian sudah mati,” kata Sintong.
Mendengar jawaban itu Hendropriyono senang.
“Ini orang saya benci benar dulu itu. Tetapi sekarang saya salut!” kata Jenderal TNI (Purn) Hendropriyono 35 tahun kemudian.
Editor: Rizal Bomantama